Visi dan misi

Memang acapkali kita tidak mampu secara jelas membedakan mana dulu yang menjadi titik-tolak, apa ingin ditempuh dan didalami pendidikannya, atau ingin penelitiannya? Meskipun demikian, “benang merah-nya” adalah:

“Seorang sarjana berpendidikan tinggi harus memiliki kemampuan untuk melakukan penelitian secara mandiri yang berkualitas”

….Artinya, di samping pendidikan itu mengandung arti “menimba” ilmu (dan teknologi dalam arti luas), namun di lain pihak kemampuan berpola-pikir, melakukan upaya mengungkap data hasil penelitian, mengkal-kulasi, menganalisis, menginterpretasikan karya ilmiah yang digarapnya juga menjadi bagian dari keterampilannya yang diharapkan bisa dikuasainya. Kemudian dia pun diandalkan dan dituntut memiliki kiat untuk mampu mengungkapkan hasil penelitiannya sesuai dengan spesialisasinya secara berarti, baik dari sudut pandang keilmuannya, keprofesiannya maupun… etikanya. Barulah dikatakan bahwa seorang sarjana itu memiliki suatu kemampuan ilmiah tertentu, disertai dengan memiliki norma berperilaku sebagai ilmuwan, profesional dan beretika sebagai latar kepakarannya itu.
Untuk memberikan kemampuan seseorang menjadi peneliti di berbagai sistem pendidikan tinggi, di dalam dan luar negeri, memang diperlukan pembimbing (tugas akhir) pada tahap pendidikan tingginya, ketika seorang mahasiswa (S-1) atau peserta “dikti”–pasca sarjana– di S-2 dan S-3 sudah dipandang siap melakukan (tugas akhir) penelitian. Di beberapa universitas, di Amerika Serikat, misalnya, seorang dosen (di)-setuju-(i) untuk menerima posisi sebagai pembimbing (penelitian) seorang mahasiswa (“calon peneliti”) dengan tanggung jawab menjamin bahwa mahasiswa bimbingannya kelak akan memahami proses penelitian hingga mencapai taraf mampu menjadi sarjana peneliti yang mandiri.

Sang mahasiswa menjalani suatu proses belajar meneliti, tahap demi tahap, dari mulai merumuskan masalah (yang perlu diteliti), menyusun rencana penelitian, merancang percobaan, merumuskan hasil dan dalil, serta kemudian mampu mempertahankan hasil penelitiannya secara sistematis serta mapan. Sang calon peneliti diajari dan dididik sejak dini data dan hasil penelitian apa yang diharapkan bisa dicapai olehnya dengan kemampuan mempertanggung-jawabkan hasilnya itu, serta mampu menguraikan bahwa hasil yang diperolehnya itu telah melalui suatu prosedur yang bisa dipertanggungjawabkan baik secara analitis serta sintesisnya, hingga mampu mencapai dan menggapai suatu kesimpulan yang tepat.
Penilaian terhadap pembelajaran proses pendidikan dan penelitian dilaksanakan dalam perjalanan ruang dan waktu tidak hanya dari segi administratif pemilihan calon dengan pembimbing(an) yang tepat arah dan tujuan serta sasaran, melainkan juga proses interaksi antar kandidat peneliti dengan pembimbingnya yang digarap oleh komisi tersendiri. Patut diperhitungkan pula berapa banyakkah (kuantitas) sang pembimbing tetap mampu mencurahkan kemampuan melaksanakan pembimbingan dalam penelitian sang kandidat peneliti, dengan tetap mampu mempertahankan kualitasnya?
Pola pikir yang mendasarinya adalah: Sang pembimbing patut memiliki hubungan intensif dengan kandidat penelitinya secara hampir hubungan tanggung jawab antara “anak dengan bapaknya” dalam proses memberikan rentang pengetahuan untuk menjadi peneliti yang handal.

Broad dan Wade dalam “Ethics and Higher Education” (1990) mengatakan:

“…the professors who train these graduate students and postdoc stand in ficudiary relationship to them, teaching them the art and craft of research, guiding their interests toward problems of scientific importance, and imbuing them with the tradition of serious research. The intimate bond that often grows up between the professor and his students is grounded in intellectual curiosity and common cornmitment to the truth…”

Hal ini bermakna bahwa proses pendidikan (tinggi) dan (dalam) penelitian sudah menjangkau suatu tataran penilaian dan etika yang patut menjadi dasar bagi menghasilkan peneliti terbaik buat bangsa. Hal ini pulalah kelak (bahkan sekarang pun secara kurang disadari oleh yang berkepentingan memajukan kualitas Dikti) yang akan menjadi penyaring secara selektif antara Institusi Pendidikan Tinggi yang “baik” dan yang “kurang baik”.

Di Amerika Serikat, misalnya, LaPidus dan Mishkin (1990) menyatakan bahwa dari 285 universitas yang ada, hanya kurang lebih 50 universitas terbaik yang memiliki prestasi untuk menyerap dan menghasilkan 60% dari sarjana peneliti handal. Maka bisa dibayangkan pula kemanapun dana penelitian akan disalurkan oleh baik pemerintah maupun lembaga yang perlu karya penelitian.

Hal tersebut di atas berarti pula bahwa masyarakat akan memiliki penilaian tersendiri manakah universitas yang baik, dan mana belum baik dalam rangka penilaiannya yang meliput kemampuan mendidik dari sudut pandang mampu memproduksi peneliti yang handal. Banyak sekarang terlintas dalam benak banyak pihak agar universitasnya diembel-embeli predikat Universitas Penelitian (Research University) hanya sekedar untuk menarik jumlah mahasiswa baru yang akan mendaftar. Namun kenyataan pahitnya, hanya sekedar menawarkan & menganugerahkan suatu tingkat kesarjanaan belaka…Bukan kemampuan sebagai penelitinya. Hati-hati…?

Yang perlu dipahami dan dihayati pula oleh banyak pihak, terutama yang memandang proses pendidikan tinggi (dikti) itu lebih secara komersial dengan makin menjamurnya tawaran untuk mengikuti program dikti, bahkan ditawarkan pula oleh pihak dari mancanegara, bahwa proses dikti itu bukan semata-mata mempertimbangkannya dari bentuk gelar kesarjanaan-nya belaka yang bisa diraih. Namun juga patut memuat etika dan tanggungjawab global pada masyarakat untuk memberikan kemampuan secara piawai sebagai peneliti di bidang yang digelutinya?

Kemajuan suatu bangsa akan dan sedang ditentukan oleh kemampuan bermitra dan bersaing dalam memelihara keberlanjutan Planet Bumi dengan segala isinya baik dalam bentuk sumber daya alam maupun lingkungan hidupnya. Modal utama untuk bermitra dan bersaing itu adalah penemuan penelitian yang bisa memberikan nilai tambah pada kinerja Pembangunan Berkelanjutan yang akan mewarnai kiprah manusia di Abad 21.

Terus terang saja, hanya mereka, calon sarjana peneliti yang berhasil menemukan pembimbing dengan kemampuan melibatkan peserta didiknya dalam suatu kiprah penelitian –sedemikian rupa– sehingga, baik secara emosional maupun intelektual, melibatkan diri sepenuhnya pada pemecahan masalah yang dihadapi dalam penelitiannya, yang akan “unggul” dalam hidupnya sebagai sarjana…peneliti. Karena, sarjana ini bukan hanya bertambah maju ilmu & teknik-penguasaan pengetahuannya, melainkan pula piawai dan dikenal oleh masyarakat peneliti lainnya, karena pengalaman penelitian bisa dan mampu memberikan nilai-tambah atas pengetahuan yang diperolehnya di kelas semasa kuliah.

Berkaitan dengan penelitian ini makin pekat perlunya penilaian dan etikanya, apabila dipahami bahwa, menurut Ziman (1968), menjadi seorang peneliti (ilmu pengetahuan dan teknologi, RES.) tidak selalu bisa langsung dikaitkan dengan mengejar kejujuran, kebenaran dan objektifitas dalam perbuatan & perilaku. Memang bisa diharapkan bahwa sang peneliti itu bisa lebih jujur dan kritis dalam menilai peran dalam disiplin ilmunya.

Namun pertanyaan menggelitik yang melibatkan dirinya pada tanggung jawab sosial terhadap dirinya serta masyarakatnya memang akan ditentukan tingkat pemahaman terhadap keteguhan diri pada tata nilai dan etika hidupnya. Pada satu ketika dalam hidupnya, sang peneliti harus menjawab pertanyaan tentang perlunya melibatkan diri dalam kegiatan penelitian yang berbahaya bagi diri dan bangsanya, merugikan sesamanya, menciptakan ancaman terhadap kesehatan dan keselamatan masyarakat.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • KALENDER 2007

    Desember 2016
    S S R K J S M
    « Sep    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031