FITRAH MANUSIA

FITRAH MANUSIA

by : Dewi Fortuna

Al-Qur’anul Karim telah menjelaskan bagaimana Allah Ta’ala menciptakan manusia yang terdiri dari unsur materi dan ruh. Allah Ta’ala telah menyempurnakan bentuk Adam AS yang berasal dari tanah dan kemudian ditiupkan ruh kedalamnya.
Allah Ta’ala berfirman :

إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِن طِينٍ .فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِي .

“(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah”. (71) Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan) Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya (72)”. (QS.Shaad : 71-72)

Hadits Rasulullah SAW juga telah menerangkan proses penciptaan manusia dari unsur materi dan ruh. Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud RA bahwa Rasulullah SAW bersabda :

ان احدكم يجمع خلقه في بطن امه اربعين يو م ثم يكون ف ذلك علقه مثل ذلك ثم يكون في ذلك مضغة مثل ذلك ثم

ير سل الملك قينفخ فيه الروح

“Sesungguhnya salah seorang dari kalian telah dikumpulkan proses peciptaannya di dalam perut ibunya selama empat puluh hari. Kemudian selama empat puluh hari dia alan menjadi ‘alaqah (segumpal daging) dan menjadi mudhghah (sekerat daging) pada empat puluh hari lagi). Setelah itu dikirim malaikat untuk meniupkan ruh kedalamya”.

Kalau demikian, pada proses penciptaan manusia telah dikumpulkan beberapa sifat binatang dan dan sifat malaikat. Dalam proses penciptaan manusia diletakkan pula beberapa kebutuhan dan motivasi fisik yang berguna untuk memelihara kelanggengan hidup yang juga dimiliki oleh binatang. Bahkan dalam proses penciptaan manusia diletakkan beberapa kebutuhan maupun motivasi spiritual yang menyebabkanya menjadi sempurna dan membuatnya memiliki nilai lebih dibandingkan semua mahluk yang lainnya. Berdasarkan potensi yang bersifat material dan spiritual inilah akhirnya manusia dijadikan khalifah di muka bumi.

Manusia dilahirkan dalam keadaan membawa fitrah. Yang dimaksud dengan fitrah disini adalah agama yang lurus, potensi untuk mengenal dan mentauhidkan Allah, cenderung kepada kebenaran dan tidak mengalami penyimpangan. Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda :

مامن مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةْ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِه

“ Tidak ada seorang jabang bayipun kecuali dia terlahir beradasrkan fitrah. Lantas kedua orang tuanyalah yang akan membuatya menjadi orang Yahudi, Nasrani maupun madjusi”.

Kesiapan yang bersifat fitrah ini butuh untuk dipupuk dan dikembangkan melalui proses pedidikan dan pengajaran. Terkadang anak kecil dihadapkan pada beberapa lingkungan yang kurang positif sehingga dia akan menyimpang dari fitrah.
Kalau manusia memiliki potensi untuk mengenal kebenaran dan melakukan amal baik, maka sebaliknya juga memiliki potensi untuk terpengaruh kondisi keluarga dan lingkungannya yang tidak positif, sehingga dia akan menyimpang dari fitrah asalnya.
Akhirnya dia pun akan cenderung kepada kebatilan dan perbuatan buruk. Oleh karena itu Rasulullah SAW bersabda : “Tidak ada seorang jabang bayipun kecuali dia terlahir beradasrkan fitrah”. Hanya saja banyak sekali pengaruh eksternal baik yang berasal dari lingkungan keluarga, lingkungan sosial masyarakat dan budaya tempat dia bertumbuh kembang mengakibatkan dia menjadi orang Yahudi, Nasrani maupun madjusi.

Rasulullah SAW juga telah meriwayatkan hadits yang berasal dari Tuhannya sebagai berikut :

اني خلقت عبادي حنفاء كلهم وا نهم اتتهم الشيا طين   فاجتا لتهم عن دينهم

“Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hambaKu dalam keadaan memeluk keyakinan yang lurus. Namun karena didatangi oleh syaithan sehingga mahluk terkutuk itu memalingkan dari agama mereka yang benar (yang lurus)”.

Dengan fitrah yang dibawa sejak lahir, manusia mampu membedakan antara yang benar maupun yang salah dan antara yang baik maupun yang buruk. Hal ini sebagaimana dia juga memiliki kesiapan untuk memilih jalan yang benar dan jalan yang sesat melalui anugerah Allah, yakni berupa kemerdekaan untuk berkehendak. Allah SWT telah berfirman :
وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ
“Dan kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan”. ( QS. Al-Balad ayat 10)

 إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا

”Sesungguhnya kami telah menunjukkinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir”. (QS. Al-Insaan ayat 3)
Rasulullah SAW bersabda :

ان الحلال بين و ان الحرام بين

“Sesungguhnya sesuatu yang halal itu sudah jelas dan sesuatu yang haram juga telah jelas”.

Melalui fitrahnya, manusia mampu mengetahui halal dan haram, benar dan salah, baik dan buruk, serta yang utama dan hina. Diriwayatkan dari Waishah bin Ma’bad RA, dia telah berkata :

يا ر سو ل الله فا خبر ني قال جيت تسال عن البر والاثم
قلت نعم فجمع اصابعهالثلاث فجعل ينكت بها في
صدري ويقول ياوا بصةاستفت نفسك البرما اطمان
اليه القلب و اطمانت اليه نفس والاثم ماحاك في
القلب وتردد في الصدر وان افتاك الناس و افتوك

“Wahai Rasulullah , beritahukan [mana saja yang termasuk kebaikan dan dosa] kepadaku!” Rasulullah bersabda, “Kamu datang untuk bertanya tentang kebaikan dan keburukan ?”, Aku menjawab “Iya”. Lantas Rasulullah mengumpulkan ketiga jarinya. Belia menusukkannya ke dadaku sembari berkata “Wahai Wabishah, mintalah fatwa kepada dirimu sendiri! Kebaikan adalah sesuatu yang dirasakan tenang oleh hati dan jiwa. Sedangkan dosa adalah sesuatu yang mengusik hati dan menciptakan kebimbangan dalam dada”.

Dengan fitrahnya manusia cenderung berbuat baik dan mencari ketenangan jiwa. Jika dia melakukan perbuatan buruk maka perasaannya akan terusik dan merasa tidak tenang. Kondisi semacam ini tidak akan dia sukai kalau sampai terdengar oleh orang lain.
Jiwa manusia akan merasa aman dengan sesuatu yang bisa menimbulkan pujian dan enggan terhadap sesuatu yang mengakibatkan celaan. Fitrah semacam ini akan terus bertumbuh kembang melalui proses pendidikan yang baik dan akan melemah kalau tidak mendapatkan pendidikan yang baik. Allah Ta’ala berfirman :

.وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا. فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا.
قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا. وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا

“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”. (QS. Asy-Syams : 7-10)

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s