KEUTAMAAN SHALAT BERJAMA’AH DI MASJID

KEUTAMAAN SHALAT BERJAMA’AH DI MASJID

By : Hamba Allah 

Shalat adalah rukun Islam kedua dan merupakan rukun Islam yang amat penting setelah syahadatain. Shalat merupakan ibadah yang harus ditunaikan dalam waktunya yang terbatas (shalat memiliki waktu-waktu tertentu) dan Allah memerintahkan kita untuk selalu menjaganya. Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya shalat bagi orang mukmin ialah kewajiban yang tertentu (telah ditetapkan) waktunya.” (QS. An-Nisa:103)

“Jagalah shalat-shalat(mu) dan shalat wustha, dan berdirilah untuk Allah dalam keadaan khusyu’.” (QS. Al-Baqarah:238)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

“Islam dibangun diatas lima perkara: syahadat bahwasanya tidak ada ilah yg berhak di sembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, dan mendirikan shalat…” (HR. Bukhari dan Muslim)
Sungguh telah banyak kaum muslimin yang meninggalkan shalat, baik itu yang tidak mendirikan shalat sama sekali ataupun menyia-nyiakan shalat dengan mengakhirkan waktu shalat. Allah Ta’ala telah mengancam orang-orang yang meremehkan dan mengakhirkan shalat dari waktunya. Allah berfirman:

“Maka datanglah sesudah mereka (sesudah orang-orang pilihan Allah) pengganti yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui (akibat) kesesatannya.” (QS. Maryam:59)

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. (Yaitu) mereka yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al Ma’un:4-5)
Dan hendaknya orang-orang yang masih mempunyai iman di hatinya takut akan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Dari Jabir radhiallah anhu, ia berkata:
“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda,

‘Sesungguhnya (batas) antara seseorang dengan syirik dan kafir adalah meninggalkan shalat’.” (HR. Muslim)
Pada hadits Buraidah radhiallahu anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

“Perjanjian antara kita dengan mereka ialah shalat, barangsiapa yang meninggalkannya maka ia telah kafir.” (HR. Ahmad dan Ahlus sunan mengeluarkannya dg sanad shahih).
Sesungguhnya shalat adalah penghubung antara hamba dengan Tuhannya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

“Sesungguhnya seseorang dari kamu jika sedang shalat, berarti ia bermunajat (berbicara) kepada Tuhannya.” (HR. Bukhari).
Dalam hadits qudsy, Allah Ta’ala berfirman:
“Aku membagi shalat antara Aku dan hamba-Ku dalam dua bagian. Bagi hamba-Ku apa yang ia minta (akan diberikan). Maka jika hambaku mengucapkan:

‘Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam’, Maka Allah menjawab: ‘Hamba-Ku memuji-Ku’. Jika ia mengucapkan:

‘Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang’, Allah menjawab:’Hambaku menyanjung-Ku’. Jika ia mengucapkan:

‘Yang menguasai hari pembalasan’, Allah menjawab:’Hamba-Ku mengagungkan-Ku’. Jika ia mengucapkan:

‘Hanya Engkau yang kami sembah dan hanya Engkau yang kami mohon pertolongan’, Allah menjawab: ‘Ini bagian-Ku dan bagian hamba-Ku, dan baginya apa yang dia minta.’ Apabila ia membaca:

‘Tunjukilah kami jalan yang lurus (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat , bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan pula (jalan) mereka yang sesat.’ Maka Allah menjawab:’Ini bagian hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta.’” (HR.Muslim)
Termasuk perkara yang menghiasi shalat adalah perintah untuk melakukan shalat berjama’ah. Bahkan begitu pentingnya shalat berjama’ah sampai-sampai mulai zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam sampai pada zaman para imam madzhab, mereka semua sangat memperhatikannya. Bukahkah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam sampai pernah mengucapkan keinginannya untuk menyuruh seseorang mengimami orang-orang, dan yang lainnya mencari kayu bakar yang kemudian akan digunakan untuk membakar rumah-rumah orang yang tidak menghadiri shalat berjama’ah?.
Bukankah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam juga pernah bersabda:

“Barangsiapa yang mendengar adzan, lalu ia tidak mendatanginya (ke masjid), maka tidak ada shalat baginya.” (HR. Ibnu Majah, hadits ini shahih)
Berkata Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu:
“Barangsiapa yang suka bertemu Allah kelak sebagai seorang muslim, maka hendaknya ia menjaga shalat-shalatnya, dengan shalat-shalat itu ia dipanggil. sesungguhnya Allah Ta’ala menggariskan kepada Nabi kalian jalan-jalan petunjuk (sunnah-sunnah). Seandainya kalian shalat dirumah, seperti orang yang terlambat ini shalat dirumahnya, niscaya kalian telah meninggalkan sunnah Nabi kalian. Jika kalian meninggalkan sunnah Nabi kalian, niscaya kalian tersesat. Dan tidaklah seorang laki-laki bersuci dengan sempurna lalu sengaja ke masjid di antara masjid-masjid (yang ada) kecuali Allah menuliskan baginya satu kebaikan untuk setiap langkah yang ia ayunkan dan mengangkat pula dengannya satu derajat dan dengannya pula dihapus satu dosa. Sebagaimana yang kalian ketahui, tak seorangpun meninggalkannya (shalat berjama’ah) kecuali orang munafik yang nyata kemunafikannya. Dan sungguh orang (yang berhalangan) pada masa itu, dibawa datang (ke masjid) dengan dipapah oleh dua orang lalu diberdirikan di dalam shaf.” (HR. Muslim)
Melaksanakan shalat berjama’ah juga merupakan ibadah yang paling ditekankan, ketaatan terbesar dan juga syi’ar Islam yang paling agung, tetapi banyak kalangan yang menisbatkan diri kepada Islam meremehkan hal ini. Sikap meremehkan ini bisa karena beberapa faktor, antara lain:
a. Mereka tidak mengetahui apa yang disiapkan oleh Allah Ta’ala berupa ganjaran yang besar dan pahala yang melimpah bagi orang yang shalat berjama’ah atau mereka tidak menghayati dan tidak mengingatnya.
b. Mereka tidak mengetahui hukum shalat berjama’ah atau pura-pura tidak mengetahuinya.
Oleh karena itulah, dibawah ini akan saya sampaikan keutamaan-keutamaan shalat berjama’ah dimasjid.
KEUTAMAAN SHALAT BERJAMAH
A. Hati yang Bergantung di Masjid akan Berada di Bawah Naungan (‘Arsy) Allah Ta’ala Pada Hari Kiamat.
Di antara apa yang menunjukkan keutamaan shalat berjama’ah ialah bahwa siapa yang sangat mencintai masjid untuk menunaikan shalat berjama’ah di dalamnya, maka Allah Ta’ala akan menaunginya di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. Dari sahabat Abu Hurairah radhiallah anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, beliau bersabda:

“Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: imam yang adil, pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Rabb-nya, seseorang yang hatinya bergantung di masjid-masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah berkumpul dan berpisah karena-Nya, seseorang yang dinginkan (berzina) oleh wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, maka ia mengatakan,’ Sesungguhnya aku takut kepada Allah’,seseorang yang bersadaqah dengan sembunyi-sembunyi sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang di nafkahkan oleh tangan kanannya, dan seseorang yang mengingat Allah dalam keadaan sepi (sendiri) lalu kedua matanya berlinang.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Imam Nawawi rahimahullah mengatakan saat menjelaskan sabdanya, “Dan seseorang yang hatinya bergantung di masjid-masjid.”
“artinya, sangat mencintainya dan senantiasa melaksanakan shalat berjamaah di dalamnya. Maknanya bukan terus-menerus duduk di masjid.” (Syarh an Nawawi VII/121)
Al ‘Allamah al ‘Aini rahimahullah menjelaska apa yang dapat dipetik dari sabda beliau Shallallahu ‘Alaihi Wassalam ini, “Didalamnya berisi keutamaan orang yang senantiasa berada di masjid untuk melaksanakan shalat berjama’ah, karena masjid adalah rumah Allah dan rumah setiap orang yang bertakwa. Sudah sepatutnya siapa yang dikunjungi memuliakan orang yang berkunjung; maka bagaimana halnya dengan Rabb Yang Maha Pemurah?”.
B. Keutamaan Berjalan ke Masjid untuk Melaksanakan Shalat Berjama’ah
1. Dicatatnya langkah-langkah kaki menuju masjid.
(Rasul) yang berbicara dengan wahyu, kekasih yang mulia Shallallahu ‘Alaihi Wassalam menjelaskan bahwa langkah kaki seorang muslim menuju masjid akan dicatat. Imam Muslim meriwayatkan dai Jabir bin Abdillah radhiallahu anhuma, ia mengatakan,”Bani Salimah ingin pindah ke dekat masjid, sedangkan tempat tersebut kosong. Ketika hal itu sampai kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, maka beliau bersabda:

“Wahai Bani Salimah! Tetaplah di pemukiman kalian, karena langkah-langkah kalian akan dicatat.”
Mereka mengatakan:

“Tidak ada yang mengembirakan kami bila kami berpindah.” (HR. Muslim)
Imam Nawawi rahimahullah mengatakan dalam menjelaskan sabdanya: “Wahai Bani Salimah! Tetaplah di pemukiman kalian, karena langkah-langkah kalian akan di catat.”
“Artinya, tetaplah dipemukiman kalian! Sebab, jika kalian tetap di pemukiamn kalian, maka jejak-jejak dan langkah-langkah kalian yang banyak menuju ke masjid akan dicatat.” (Syarh an NawawiV/169)
‘Abdullah bin Abbas radhiallahu anhuma mengatakan, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam sunannya, “Pemukiman kaum Anshar sangat jauh dari masjid, lalu mereka ingin agar dekat dengannya, maka turunlah ayat ini,

“Dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.”(QS. Yasin:12)
Akhirnya, mereka tetap tinggal di pemukiman mereka.” (HR.Ibnu Majah)
Pencatatan langkah-langkah orang yang menuju masjid bukan hanya ketika ia pergi ke masjid, tetapi juga dicatat ketika pulang darinya. Imam Muslim meriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab radhiallahu anhu tentang kisah seorang Anshar yang tidak pernah tertinggal dari shalat berjama’ah, dan tidak pula ia menginginkan rumahnya berdekatan dengan masjid, bahwa ia berkata kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam:

“Aku tidak bergembira jika rumahku (terletak) didekat masjid. Aku ingin agar langkahku ke masjid dan kepulanganku ketika aku kembali kepada keluargaku dicatat.”
Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

“Allah telah menghimpun semua itu untukmu.” (HR. Muslim)
Dalam riwayat Ibnu Hibban:

“Allah telah memberikan itu semua kepadamu. Allah telah memberikan kepadamu apa yang engkau cari, semuanya.” (HR.Ibnu Majah)
2. Para Malaikat yang mulia saling berebut untuk mencatatnya.
Diantara dalil yang menunjukkan keutamaan berjalan ke masjid untuk menunaikan shalat berjama’ah bahwa Allah meninggikan kedudukan langkah-langkah orang yang (berjalan) menuju ke masjid, bahkan para Malaikat yang didekatkan (kepada Allah) berebut untuk mencatatnya dan membawanya naik ke langit.
Imam at Tirmidzi rahimahullah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu anhuma, ia mengatakan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

“Tadi malan Rabb-ku tabaarakta wata’aala, mendatangiku dalam rupa yang paling indah.”(Perawi mengatakan,’Aku menduganya mengatakan,’Dalam mimpi.’). Lalu Dia berfirman, “Wahai Muhammad! Tahukah engkau, untuk apa para Malaikat yang mulia saling berebut?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam berkata:”Aku menjawab,’Tidak’. Lalu Dia meletakkan Tangan-Nya di antara kedua pundakku sehingga aku merasakan kesejukannya di dadaku (atau beliau mengatakan,’Di leherku’). Lalu aku mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi.”Dia berfirman,”Wahai Muhammad!Tahukah engkau untuk apa para Malaikat yang mulia saling berebut?” Aku menjawab,”Ya, tentang kaffarat (perkara-perkara yang menghapuskan dosa). Kaffarat itu adalah diam di masjid setelah melaksanakan shalat, berjalan kaki untuk melaksanakan shalat berjama’ah, dan menyempurnakan wudhu pada saat yang tidak disukai.” (HR. Tirmidzi, hadits ini shahih).
Seandainya berjalan kaki untuk shalat berjama’ah tidak termasuk amal yang mulia, niscaya para Malaikat muqarrabun tidak akan berebut untuk mencatat dan membawanya naik ke langit.
3. Berjalan menuju shalat berjama’ah termasuk salah satu sebab mendapatkan jaminan berupa kehidupan yang baik dan kematian yang baik pula.
Tidak hanya para Malaikat saling berebut untuk mencatat amalan berjalan kaki menuju shalat berjama’ah, bahkan Allah menjadikan jaminan kehidupan yang baik dan kematian yang baik pula. Disebutkan dalam hadist terdahulu:
“Barangsiapa yang melakukan hal itu – yakni tiga amalan yang disebutkan dalam hadits, di antaranya berjalan kaki menuju shalat berjama’ah – maka ia hidup dengan baik dan mati dengan baik pula.”
Betapa besar jaminan ini! Kehidupan yang baikdan kematian yang baik. siapakah yang menjanjikan hal itu? Dia-lah Allah Yang Maha Esa, yang tidak ada seorangpun yang lebih menepati janji selain Dia.
4. Berjalan menuju shalar berjama’ah termasuk salah satu sebab dihapuskannya kesalahan-kesalahan dan ditinggikannya derajat.
Diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

“Maukah aku tunjukkan kepada kalian tentang perkara yang akan menghapuskan kesalahan-kesalahan dan juga mengangkat beberapa derajat?” Para sahabat menjawab,”Tentu, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda,”Menyempurnakan wudhu’ pada saat yang tidak disukai, banyak melangkah ke masjid-masjid, dan menunggu shalat setelah melaksanakan shalat. Maka, itulah ar-tibath (berjuang di jalan Allah).” (HR. Muslim).
Ar-ribath pada asalnya -sebagaimana dikatakan oleh al Imam Ibnul Atsir–adalah berdiri untuk berjihad untuk memerangi musuh, mengikat kuda dan menyiapkannya. Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam menyerupakan dengannya apa yang telah disebutkan berupa amal-amal shalih dan peribadahan dengannya. Penyerupaan ini juga menegaskan besarnya kedudukan tiga amalan yang tersebut didalam hadits, di antaranya banyak melangkah ke masjid.
Keutaman ini juga berlaku untuk seseorang yang melangkah keluar dari masjid, Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Amr radhiallahu anhuma, ia mengatakan,”Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

“Barangsiapa yang pergi menuju masjid untuk shalat berjama’ah, maka satu langkah akan menghapuskan satu kesalahan dan satu langkah lainnya akan ditulis sebagai satu kebajikan untuknya, baik ketika pergi maupun pulangnya.” (HR. Ahmad, hadits ini shahih).
5. Pahala orang yang keluar dalam keadaan suci (telah berwudhu) untuk melaksanakan shalat berjama’ah seperti pahala orang yang melaksanakan haji dan umrah.
Imam Ahmad dan Abu Dawud meriwayatkan , dari sahabat Abu Umamah radhiallahu anhu. Ia mengatakan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

“Barangsiapa yang keluar dari rumahnya menuju masjid dalam keadaan bersuci (telah berwudhu’) untuk melaksanakan shalat fardhu (berjama’ah), maka pahalanya seperti pahala orang yang melaksanakan haji dan ihram.” (Hadits ini dihasankan oleh Syaikh al Albani).
Zainul ‘Arab mengatakan dalam menjelaskan sabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam: “Seperti pahala orang yang melaksanakan haji dan ihram,” “Yakni, pahalanya sempurna.” (‘Aunul Ma’buud II/357)
Allaahu Akbar, jika sedemikian besarnya pahala orang yang keluar untuk menunaikan shalat berjama’ah , maka bagaimana halnya pahala melakukan shalat berjama’ah?
6. Orang yang keluar (menuju masjid) untuk melaksanakan shalat berjama’ah berada dalam jaminan Allah Ta’ala.
Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam menjelaskan bahwa orang yang keluar menuju shalat berjama’ah berada dalam jaminan Allah Ta’ala. Imam bu Dawud rahimahullah meriwayatkan dari Abu Umamah radhiallahu anhu, dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, beliau bersabda:

“Ada tiga golongan yang semuanya dijamin oleh Allah Ta’ala, yaitu orang yang keluar untuk berperang di jalan Allah, maka ia dijamin oleh Allah hingga Dia mewafatkannya lalu memasukkannya ke dalam Surga atau mengembalikannya dengan membawa pahala dan ghanimah, kemudian orang yang pergi ke masjid, maka ia dijamin oleh Allah hingga Dia mewafatkannya lalau memasukkannya ke dalam Surga atau mengembalikannya dengan membawa pahala, dan orang yang masuk rumahnya dengan mengucapkan salam, maka ia dijamin oleh Allah.” (HR. Abu Dawud, di shahihkan oleh syaikh al Albani)
7. Orang yang keluar untuk melaksanakan shalat berjama’ah berada dalam shalat hingga kembali ke rumah.
Imam Ibnu Khuzaimah meriwayatkan dalam shahihnya dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, ia mengatakan,”Abul Qasim Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

“Jika salah seorang dari kalian berwudhu’ di rumahnya, kemudian datang ke masjid, maka ia berada dalam shalat hingga ia kembali. Oleh karenanya, jangan mengatakan demikian-seraya menjaringkann diantara jari-jemarinya-.” (HR. Ibnu Khuzaimah, di shahihkan oleh Syaikh al Albani)
8. Kabar gembira bagi orang-orang yang berjalan di kegelapan (untuk melaksanakan shalat berjama’ah) dengan memperoleh cahaya yang sempurna pada hari Kiamat.
Imam Ibnu Majah meriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad as Sa’di radhiallahu anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

“Hendaklah orang-orang yang berjalan di kegelapan menuju masjid bergembira dengan (mendapatkan) cahaya yang sempurna pada hari Kiamat.” (HR.Ibnu Majah, syaikh al Albani menilainya shahih)
Ath Thayyibi rahimahullah mengatakan,” Tentang disifatinya cahaya dengan kesempurnaan dan pembatasannya dengan (terjadinya di) hari Kiamat, mengisyaratkan kepada wajah kaum mukminin pada hari Kiamat, sebagaimana dalam firman Allah:

“Sedang cahaya mereka memancar dihadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan,’Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami.’” (QS. At Tahriim:8) (dinukil dari ‘Aunul Ma’buud II/268)
Disampaing itu Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam memerintahkan kepada semua pihak agar memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan di kegelapan menuju masjid dengan kabar gembira yang besar ini. Imam Abu Dawud meriwayatkan dari Buraidah radhiallahu anhu, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

“Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan di kegelapan menuju masjid dengan cahay (yang akan diperolehnya) pada hari Kiamat.” (HR. Abu Dawud, di shahihkan oleh Syaikh al Albani)
Al-‘Allamah ‘Abdur Ra-uf al Munawi rahimahullah menjelaskan hadits ini, “Ketika mereka berjalan dalam kesulitan karena senantiasa berjalan dalam kegelapan malam menuju ketaatan, maka mereka diberi balasan berupa cahay yang menerangi mereka pada hari Kiamat.” (Faidhul Qadiir III/201).
9. Allah menyiapkan persinggahan di Surga bagi siapa yang pergi menuju masjid atau pulang (darinya).
Di riwayatkan dari asy Syaikhan dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, beliau bersabda:

“Barangsiapa yang pergi ke masjid dan pulang (darinya), maka Allah menyiapkan untuknya persinggahan di Surga setiap kali pergi dan pulang.” (Muttafaq ‘alaih, lafazh ini milik Bukhari).
Jika persinggahan orang yang pergi menuju masjid atau pulang darinya disiapkan oleh Allah, Rabb langit dan bumi serta Pencipta alam semesta seluruhnya, maka bagaimana persingahan itu??
C. Orang Yang Datang ke Masjid adalah Tamu Allah Ta’ala
Di antara apa yang menunjukkan keutamaan shalat berjama’ah di masjid adalah apa yang dijelaskan oleh Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bahwa orang yang datang ke masjid adalah tamu Allah Ta’ala, dan yang dikunjungi wajib memuliakan tamunya. Imam ath Thabrani meriwayatkan dari Salman radhiallahu anhu bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
“Barangsiapa yang berwudhu’ di rumahnya dengan sempurna kemudian mendatangi masjid, maka ia adalah tamu Allah, dan siapa yang di kunjunginya wajib memuliakan tamunya.” (HR. ath Thabrani)
Bagaimana cara Allah memuliakan tamu-Nya, sedangkan Dia adalah Rabb yang paling Pemurah, Penguasa langit dan bumi? Para sahabat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam juga menegaskan hal ini. Imam Ibnul Mubarak rahimahullah meriwayatkan dari ‘Amr bin Maimun, ia mengatakan, “Para sahabat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam mengatakan,’Rumah Allah di bumi adalah masjid, dan Allah wajib memuliakan siapa yang mengunjungi-Nya di dalamnya.’” (Kiitab az Zuhd)
D. Allah Ta’ala Bergembira dengan Kedatangan Hamba-Nya ke Masjid untuk Melaksanakan Shalat Berjama’ah
Imam Ibnu Khuzaimah meriwayatkan dari Abu Hurairah radiallahu anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

“Tidaklah salah seorang dari kalian berwudhu’ dengan baik dan sempurna kemudian mendatangi masjid, ia tidak menginginkan kecuali shalat di dalamnya, melainkan Allah bergembira kepadanya sebagaimana keluarga orang yang pergi jauh bergembira dengan kedatangannya.” (HR.Ibnu Khuzaimah, dishahihkan oleh Syaikh al Albani)
Imam Ibnul Atsir rahimahullah mengatakan,”Al Bassyu adalah kegembiraan kawan dengan kawannya, lemah lembut dalam persoalan dan penyambutannya. Ini adalah permisalan yang dibuat tentang penyambutan Allah kepadanya dengan karunia-Nya, mendekatkannya (kepadanya) dan memuliakannya.” (An-Nihaayah fii Ghariibil Hadits wal Atsar I/130).
E. Keutamaan Menunggu Shalat
Orang yang duduk menunggu shalat, maka ia berada dalam shalat dan Malaikat memohonkan ampunan serta memohonkan rahmat untuknya. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

“Salah seorang dari kalian duduk untuk menunggu shalat, maka ia berada dalam shalat selagi belum berhadats, dan para Malaikat berdo’a untuknya:’Ya Allah! Berikanlah ampunan kepadanya, ya Allah! Rahmatilah ia’.” (HR. Muslim).

8 Kebohongan Ibu

8 KEBOHONGAN IBU

By : Dewi Fortuna 

Delapan Kebohongan Seorang Ibu Dalam Hidupnya

Dalam kehidupan Kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan Membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah Ini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia. Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang Anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata:
“Makanlah nak, aku tidak lapar” ———- KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA

Ketika aku mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan
waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk pertumbuhanku. Sepulang memancing, ibu memasak gulai ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan gulai ikan itu, ibu duduk disampingku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang bekas sisa ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati ku tersentuh, lalu
Menggunakan sumpitku dan memberikan ikan kepada ibuku. Tetapi ibu dengan Cepat menolaknya, ia berkata :
“Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA

Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan
kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil. Dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api. Aku berkata :”Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.” Ibu tersenyum dan berkata :
“Cepatlah tidur nak, aku tidak capek” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku
Pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari,
Ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang ibu yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata :
“Minumlah nak, aku tidak haus!” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga Kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, Ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata :
“Saya tidak butuh cinta”———-KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA

Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku Dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata :
“Saya punya uang” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM

Setelah Lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian
memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika
berkat beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku :
“Aku tidak terbiasa” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH
Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker
Lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di
Seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk
ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya
Setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku
dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menggerogoti tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata :
“Jangan menangis anakku, aku tidak kesakitan” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta
menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.
Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa
tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : ” Terima kasih ibu !”
Coba teman-teman pikir, sudah berapa lama kita tidak menelepon
ayah ibu kita? Sudah berapa lama kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita ?
Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah. Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli dengan pacar kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila disamping kita.
Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari orang tua kita? Cemas apakah ortu kita sudah makan atau belum? Cemas apakah ortu kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar ? Kalau ya, coba kita renungkan kembali lagi.. Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi orang tua kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata “MENYESAL”di kemudian hari.

Psikologi Kejiwaan Anak pada Masa Transisi

Psikologi Kejiwaan Anak pada Masa Transisi
(Telaah psikologis peralihan masa remaja ke masa dewasa)

By : Dewi Fortuna

Kajian pencarian jati diri bisa berdampak negatif dan juga positif, bagi
diri sendiri, keluarga, teman, lingkungan dan juga perubahan sikap,
sudut pandang dan gaya hidup. Seseorang tidak perlu menjadi
seseorang yang lain untuk mengubah jati diri dari keadaan semula
menjadi keadaan kemudian, dalam hal ini seorang anak pada masa
transisi, yaitu masa peralihan dari masa remaja menjadi masa
dewasa, tidak harus menjadi kan kata “pencarian jati diri” sebagai
momok yang menakutkan bagi orang-orang sekitarnya, karena
mungkin saja keadaan dan lingkungannya tidak mengerti, tidak mau
tahu dan bahkan yang lebih parah berusaha untuk tidak mau tahu
dengan keadaan anda yang menyebut dirinya dengan “seseorang yang
sedang mencari jati diri” .
Sekarang cobalah kita tanya pada diri sendiri, untuk apa pencarian jati
diri itu dilakukan ? hanya untuk menunjukkan eksistensi kita, bahwa
kita ini ada, kita ini seseorang, kita ini punya nilai, atau kita ini ingin
dihargai dan dianggap sebagai manusia? Sekarang terlepas dari
masalah pencarian jati diri, seharusnya yang kita lakukan adalah
bertanya pada diri sendiri, apa yang telah kita lakukan, apakah kita
cukup bernilai, apakah kita ini seseorang yang bermanfaat buat orang
lain, apakah kita ini cukup berharga untuk dihormati ? dan adakah
sesuatu yang telah kita lakukan untuk membuat orang lain bahagia,
orang lain merasa dihargai, orang lain merasa bermanfaat bagi anda
dan juga merasa bahwa anda pantas untuk dicintai, disayangi dan
dihargai.
Sebetulnya saya pribadi menelaah “momok pencarian jati diri” ini
hanya sebuah wujud nyata dari keegoisan manusia, yang biasanya
muncul di usia remaja ke peralihan dewasa, karena ego pada masa itu
lebih besar dibanding masa pra remaja dan anak-anak. Maka
“pencarian Jati diri” dijadikan alasan untuk berusaha menekan orangorang
disekitarnya lah yang berusaha memahami, mengalah, mengerti
keadaannya. Contoh dari teman, bahkan juga dari lingkungan
menjadikan hal ini semakin memperkuat bagi mereka di masa ini
untuk membentuk situasi pencarian jati diri dalam dirinya.
Sekedar masukan, ini sebuah pengalaman pribadi, dan saya rasa tidak
sedang berusaha menyinggung siapapun, manusia pada masa transisi
ini seringkali menyepelekan orang-orang yang menyayanginya, tidak
mau mengakui kesalahan diri sendiri tapi selalu mencari kesalahan
orang lain, menganggap diri selalu benar, tidak punya hati, egois dan
sering melukai perasaan orang yang menyayanginya. Selalu berharap
orang lain mengerti dan bisa memahami sikapnya, tanpa mau tahu
apakah hati orang itu terluka, yang penting, kitalah yang harus
mengerti bahwa dia sedang melewati “Masa Pencarian Jati Diri”.
Cobalah anak-anak yang sedang mengalami masa transisi, belajar
merenungi apakah pantas “masa pencarian jati diri” dianggap sebuah
momok untuk arena pembalasan dendam, ajang keegoisan dan wadah
penyalur kebecian juga alat menyudutkan kesalahan orang. Jangan
salah mengartikan “Pencarian jati diri” untuk hal yang ke arah negatif,
tapi berusahalah agar masa pencarian jati diri ini tidak mengurangi
kadar kebaikan kita tapi malah menambah. Jangan kebaikan yang
sudah ada menjadi hilang karena masa pencarian jati diri ini, tapi
justeru malah bertambah kebaikan, nilai-nilai, rasa hormat, rasa
sayang, rasa cinta dan lebih sportif dalam mengakui kesalahan diri
sendiri, dengan begitu masa pencarian jati diri kita tidak akan sia-sia,
dan kata-kata “masa pencarian jati diri” tidak menjadi momok yang
menakutkan bagi orang tua.

Perkawinan Campuran dlm Hukum Positif di Indonesia

PERKAWINAN CAMPURAN DALAM HUKUM POSITIF DI INDONESIA

by : Dewi Fortuna

A. Pengertian Perkawinan
Perkawinan merupakan suatu peristiwa penting dalam kehidupan manusia, karena perkawinan tidak saja menyangkut pribadi kedua calon suami istri, tetapi juga menyangkut urusan keluarga dan masyarakat.
Pada umumnya perkawinan dianggap sebagai sesuatu yang suci dan karenanya setiap agama selalu menghubungkan kaedah-kaedah perkawinan dengan kedah-kaedah agama.
Kecuali agama Islam, semua agama mensyaratkan peneguhan dan pemberkatan oleh pejabat sebagai syarat syahnya perkawinan menurut hukum agama. Sedangkan menurut agama Islam, pernikahan sudah dianggap sah bila sudah diucapkan ijab kabul oleh mempelai laki-laki di hadapan saksi-saksi dan pegawai pencatat nikah. Semua agama umumnya mempunyai hukum perkawinan yang tekstular.
Manusia dalam menempuh pergaulan hidup dalam masyarakat ternyata tidak dapat terlepas dari adanya saling ketergantungan antara manusia dengan yang lainnya. Hal itu dikarenakan sesuai dengan kedudukan manusia sebagai mahluk sosial yang suka berkelompok atau berteman dengan manusia lainnya. Hidup bersama merupakan salah satu sarana untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia baik kebutuhan yang bersifat jasmani maupun yang bersifat rohani. Demikian pula bagi seorang laki-laki ataupun seorang perempuan yang telah mencapai usia tertentu maka ia tidak akan lepas dari permasalahan tersebut. Ia ingin memenuhi kebutuhan hidupnya dengan melaluinya bersama dengan orang lain yang bisa dijadikan curahan hati penyejuk jiwa, tempat berbagi suka dan duka.
Hidup bersama antara seorang laki-laki dan perempuan sebagai pasangan suami istri dan telah memenuhi ketentuan hukumnya, ini yang lazimnya disebut sebagai sebuah perkawinan.
Perkawinan (pernikahan) pada hakekatnya adalah merupakan ikatan lahir dan batin antara seorang laki-laki dan perempuan untuk membentuk suatu keluarga yang kekal dan bahagia.
Untuk memberikan pengertian yang lebih jauh tentang perkawinan ini, disini penulis akan kemukakan beberapa pandangan atau pendapat baik menurut ketentuan hukum Islam maupun menurut ketentuan perundang-undangan. Adapun beberapa pengertian perkawinan tersebut adalah sebagai berikut :
1. Pengertian perkawinan menurut ketentuan hukum Islam
Perkawinan atau istilah dalam agama Islam disebut dengan “Nikah”, menurut Ahmad Azhar Basyir MA, dalam bukunya yang berjudul “Hukum Perkawinan Islam”, menyebutkan bahwa :

“Perkawinan adalah suatu akad atau perikatan untuk menghalalkan hubungan kelamin antara laki-laki dan perempuan dalam rangka mewujudkan kebahagiaan hidup keluarga, yang diliputi rasa ketentraman serta kasih saying dengan cara yang diridhoi Allah”.

Dari batasan tersebut di atas kiranya dapat diambil kesimpulan bahwa perkawinan mempunyai arti yang sangat penting bagi kehidupan manusia, karena dalam suatu perkawinan yang sah selanjutnya akan :
a. Menghalalkan hubungan atau pergaulan hidup manusia sebagai suami istri. Hal itu adalah sesuai dengan kedudukan manusia sebagai mahluk yang memiliki derajat dan kehormatan.
b. Melahirkan anak-anak (keturunan) yang sah sehat jasmani dan rohani demi kelangsungan hidup keluarga secara baik-baik dan terus menerus.
c. Terbentuknya hubungan rumah tangga yang tentram dan damai dalam suatu rumah tangga yang tentram dan damai diliputi rasa kasih sayang selanjutnya akan menciptakan kehidupan masyarakat yang tertib dan teratur.
d. Perkawinan dalam agama Islam adalah merupakan suatu bentuk perbuatan ibadah. Perkawinan merupakan salah satu perintah agama kepada yang mampu untuk segera melaksanakannya, karena dengan perkawinan dapat mengurangi perbuatan maksiat penglihatan, memelihara diri dari perbuatan zina. Oleh karena itu, bagi mereka yang berkeinginan untuk menikah, sementara perbekalan untuk memasuki sebuah perkawinan belum siap, dianjurkan berpuasa, karena dengan berpuasa diharapkan dapat membentengi diri dari perbuatan tercela yang sangat keji, yaitu perzinaan.
Dinyatakan dalam hadits riwayat Abdullah Ibnu Mas’ud, Rasulullah SAW bersabda :

“Wahai kaum muda, barang siapa diantara kalian mampu menyiapkan bekal, nikahlah. Karena sesungguhnya nikah dapat menjaga penglihatan dan memelihara farji. Barang siapa tidak mampu, maka hendaknya ia berpuasa, karena puasa dapat menjadi benteng (Muttafaq ‘alaih).”

Perkawinan merupakan wadah penyaluran kebutuhan biologis manusia yang wajar, dan dalam ajaran Nabi, perkawinan ditradisikan menjadi sunnah beliau.
Hadits riwayat dari Annas Ibnu Malik, bahwa Nabi Muhammad SAW memuji Allah dan Anas melihatnya dan beliau bersabda :

“Akan tetapi aku shalat, tidur, puasa, berbuka, dan aku menikahi perempuan. Maka barang siapa membenci sunnahku, maka ia bukan termasuk golonganku.” (Muttafaq’alaih)

Karena itulah perkawinan yang sarat nilai dan bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah, perlu diatur dengan syarat dan rukun tertentu, agar tujuan disyariatkannya perkawinan tercapai. Untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai syariat dan rukun perkawinan menurut Islam, dijelaskan sebagai berikut. Syarat-syarat perkawinan mengikuti rukun-rukunnya, seperti dikemukakan oleh Kholil Rahman.
a. Calon mempelai pria, syarat-syaratnya :
1. Laki-laki
2. Beragama Islam
3. Jelas orangnya
4. Dapat memberikan persetujuan
5. Tidak terdapat halangan perkawinan
b. Calon mempelai wanita, syarat-syaratnya :
1. Perempuan
2. Beragama, meskipun Yahudi atau nasrani
3. Jelas orangnya
4. Dapat dimintai persetujuan
5. Tidak terdapat halangan perkawinan
c. Wali nikah, syarat-syaratnya :
1. Laki-laki
2. Dewasa
3. Mempunyai hak perwalian
4. Tidak terdapat halangan perwalian.
d. Saksi nikah, syarat-syaratnya :
1. Minimal dua orang laki-laki
2. Hadir dalam ijab qabul
3. Dapat mengerti maksud akad
4. Islam
5. Dewasa
e. Ijab Qabul, syarat-syaratnya :
1. Adanya pernyataan mengawinkan dari wali
2. Adanya penerimaan dari calon mempelai
3. Memakai kata-kata nikah
4. Antara Ijab dan qabul jelas maksudnya
5. Antara ijab dan qabul bersambungan (satu nafas)
6. Orang yang berkaitan dengan ijab qabul tidak sedang dalam ihram haji/umrah
7. Majelis ijab qabul itu harus dihadiri minimum empat orang, yaitu calon mempelai pria atau wakilnya, wali dari mempelai wanita atau wakilnya dan dua orang saksi.
Rukun dan syarat-syarat perkawinan tersebut harus dipenuhi, apabila tidak terpenuhi maka perkawinan yang dilangsungkan tidak akan sah. Disebutkan dalam kitab Al-Fiqh’ ala Al-Mazahib Al-Arabaah :
“Nikah Fasid yaitu nikah yang tidak memenuhi syarat-syaratnya, sedang nikah batil adalah nikah yang tidak memenuhi rukun-rukunnya. Dan hukum nikah fasid dan nikah batil adalah sama, yaitu tidak sah”.
Demikian pentingnya suatu perkawinan bagi orang Islam. Dengan demikian menurut hukum Islam ada macam-macam hokum perkawinan, yaitu :
a. Wajib, Yaitu bagi orang yang dilihat dari segi biaya hidup telah mencukupi dan dari segi jasmaniah telah mendesak sehingga apabila ia tidak segera kawin akan terjerumus dalam melakukan perbuatan dosa.
b. Sunnah, Yaitu bagi orang yang terlihat dari segi jasmani maupun biaya telah memungkinkan untuk melakukan perkawinan.
c. Makruh, Yaitu bagi orang yang dilihat dari segi jasmani sudah wajar, tetapi belum sangat mendesak sedang biaya untuk kawin belum ada.
d. Haram, Yaitu apabila seorang yang mengawini orang lain hanya untuk memperoleh penghinaan atau menganiaya saja.

2. Pengertian perkawinan menurut ketentuan perundang-undangan.
Pengertian perkawinan menurut ketentuan perundang-undangan dapat kita kemukakan berdasarkan ketentuan yang terdapat dalam Undang-undang No. 1 Tahun 1974, pasal 1 dan pasal 2 ayat 1, dimana dalam ketentuan pasal 1 menyebutkan :
Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seoirang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan untuk membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Demikian pula pasal 2 ayat 1 nya menyebutkan : “Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu.
Dari ketentuan kedua pasal tersebut, kiranya dapat diambil kesimpulan bahwa sebagai negara yang berdasarkan Pancasila, dimana pada sila pertamanya adalah ketuhanan Yang Maha Esa, maka perkawinan mempunyai hubungan yang erat sekali dengan ketentuan hukum agama dan kepercayaannya sehingga dengan demikian perkawinan bukan saja mempunyai hubungan dengan unsure lahir (jasmani), tetapi unsure batin juga mempunyai peranan yang sangat penting.
Membentuk keluarga yang bahagia erat hubungannya dengan tumbuhnya keturunan tersebut. Bagi warga negara Indonesia yang beragama Islam apabila hendak melakukan perkawinan supaya sah harus memenuhi ketentuan hukum perkawinan Islam.
Demikian juga bagi warga negara Indonesia yang lain yang beragama selain Islam (Nasrani, Hindu, Budha), maka hukum agama merekalah yang menjadi dasar pelaksanaan menentukan sahnya perkawinan.
Dari uraian tersebut dia atas, kiranya dapat diambil kesimpulan bahwa pengertian perkawinan baik menurut hukum Islam ataupun menurut ketentuan perundang-undangan tidak ada perbedaan yang prinsipil, dimana pada intinya semua menyebutkan bahwa perkawinan itu adalah ikatan lahir dan batin antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan untuk membentuk suatu keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan telah memenuhi ketentuan hukumnya.

B. Perkawinan Campuran
Dari uraian terdahulu, kita mengetahui bahwa keadaan hukum perkawinan di Indonesia adalah bercorak ragam sifatnya. Bagi setiap golongan penduduk berlaku hukum perkawinan yang berbeda dengan golongan penduduk yang lainnya.
Keadaan ini telah menimbulkan persoalan hukum antar golongan di bidang perkawinan, yaitu peraturan hukum perkawinan yang manakah yang akan diberlakukan terhadap suatu perkawinan antara dua orang yang berbeda golongan penduduk dan hukumnya.
Dengan maksud memecahkan persoalan itulah kemungkinan pemerintah Hindia Belanda dahulu dengan penetapan raja tanggal 29 Desember 1896 No. 23 (Stb. 1898 No. 158) telah mengeluarkan peraturan tentang perkawinan campuran (Religion op de Gemengde Huwelijken) yang dalam perjalanan sejarahnya kemudian telah dirubah dan ditambah yang dimuat dalam beberapa staatblads (Lembaran Negara Hindia Belanda).
Pasal 1 dari Religion op de Gemengde Huwelijken (GHR) itu menyatakan bahwa yang dinamakan Perkawinan campuran ialah “Perkawinan antar orang-orang yang di Indonesia tunduk kepada hukum-hukum yang berlainan”.
Menurut pendapat kebanyakan ahli hukum dan yurispudensi yang dimaksudkan diatur selaku “Perkawinan campuran” itu ialah perkawinan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang masing-masing pada umumnya takluk pada hukum yang berlainan.
Dalam menentukan hukum mana yang berlaku bagi orang-orang yang melakukan perkawinan campuran, GHR selanjutnya menyatakan bahwa dalam hal seorang perempuan melakukan perkawinan campuran, maka ia selama pernikahan itu belum putus, tunduk kepada hukum yang berlaku bagi suaminya baik di lapangan hukum publik maupun hukum sipil (pasal 2). Dengan kata lain perempuan yang melakukan perkawinan campuran berubah statusnya menjadi mengikuti status pihak suaminya. Jadi ada penggantian hukum, dari hukumnya sendiri menjadi tunduk kepada hukum sang suami dengan melakukan pemilihan hukum.
Mengenai pemilihan hukum disini, Prof. Mr. DR. S. Gautama (Gouw Giok Siong) mengatakan bahwa walaupun anasir memilih hukum tak demikian kentara, tetapi anasir memilih ini dapat dikatakan nampak pula, karena adanya syarat “toestemmino” (persetujuan) dari pihak perempuan yang sellau disyaratkan sebelum dapat dilangsungkan suatu perkawinan campuran.
Pihak perempuan dapat dikatakan mengetahui apa yang hendak diperbuatnya dengan segala akibat-akibat yang dikehendakinya juga.
Hal lain yang perlu kita perhatikan adalah bahwa dalam perkawinan campuran ini, sebagaimana dikatakan oleh pasal 7 ayat (2), perbedaan agama, bangsa atau asal, sama sekali tidak menjadi halangan untuk melangsungkan perkawinan.
Setelah berlakunya undang-unadang perkawinan No. 1 tahun 1974, telah terjadi unifikasi di lapangan hukum perkawinan. Walaupun demikian, pembuat undang-undang tidak menutup kemungkinan terjadinya perkawinan campuran di kalangan penduduk negara Indonesia dan karenanya masalah perkawinan campuran ini tetap masih dapat kita jumpai pengaturannya dalam undang-undang tersebut, yaitu sebagaimana yang diatur dalam bagian ketiga dari bab XII, ketentuan-ketentuan lain.
Bagian ketiga dari bab XIII UU No. 1 Tahun 1974, terdiri dari 6 pasal, yaitu dimulai dari pasal 57 sampai dengan pasal 62. Pasal 57 memberikan pengertian tentang apa yang dimaksud dengan perkawinan campuran menurut undang-undang tersebut.
Pasal 57 :
Yang dimaksud dengan perkawinan campuran dalam undang-undang ini ialah perkawinan antara dua orang yang di Indonesia tunduk pada hukum yang berlainan, karena perbedaan kewarganegaraan dan salah satu pihak berkewarganegaraan Indonesia.

Dari perumusan pasal 57 di atas, kita melihat bahwa UU No. 1 tahun 1974 telah memperjelas pengertian perkawinan campuran dan membatasinya hanya pada perkawinan antara seorang warga negara Republik Indonesia dengan warga negara asing.
Dengan demikian perkawinan antar sesama warga negara Indonesia yang tunduk kepada hukum yang berlainan tidak termasuk ke dalam rumusan pasal 57 itu. Hal demikian itu adalah sejalan dengan pandangan pemerintah Indonesia yang hanya mengenal pembagian penduduk atau warga negara dengan bukan warga negara dan sejalan juga dengan cita-cita unifikasi hukum yang dituangkan dalam ketentuan-ketentuan undang-undang tersebut.
Hal pertama yang perlu mendapat perhatian ialah bahwa rumusan perkawinanmenurut undang-undang ini membatasi diri hanya pada perkawinan antara warga negara Indonesia dengan warga negara Asing.
Sedangkan perkawinan antara sesama warga negara Indonesia yang tunduk pada hukum yang berlainan, termasuk perkawinan antara agama, tidak termasuk dalam lingkup batasan perkawinan campuran menurut undang-undang ini.

C. Pandangan Islam Tentang Perkawinan campuran
Pernikahan adalah satu ikatan yang sangat dalam dan kuat mengh8ubungkan antara dua anak manusia. Ikatan ini meliputi saling memenuhi hak dan kewajiban antara kedua insan itu. Karenanya, harus ada kesatuan dan pertemuan antara dua hati di dalam satu simbol yang tidak akan mudah lepas terurai.
Untuk menyatukan hati, maka terlebih dahulu harus ada penyesuai terhadap keadaan jiwa dan arah yang akan dituju dalam mengarungi kehidupan perkawinan. Akidah agama adalah sesuatu yang sangat dalam dan universal dalam memenuhi kebutuhan manusia secara hakiki, mempengaruhi dan mengarahkan perasaannya, membentuk tabiat emosi dan menentukan jalan kehidupan baginya.
Sekalipun demikian banyak orang yang telah tertipu oleh keyakinan semu atau keterbatasan pemahaman tentang akidah, sehingga mereka beranggapan bahwa akidah hanyalah perasaan selintas yang mungkin bisa ditukar dengan falsafah pemikiran atau teori-teori social.
Anggapan seperti itu menunjukkan minimnya pengetahuan dan hakikat jiwa manusia dan unsure-unsur yang essensial . dampak negatif dari hal tersebut adalah perkawinan campuran yang terjadi di kalangan masyarakat.
Pengertian perkawinan campuran berasal dari kata campur yang berarti beraduk dan berbaur menjadi satu (bercampur baur). Bercampur itu mengandung arti, berkumpulnya sesuatu yang tidak asama atau seragam antara lain dalam bidang agam atau keagamaan. Jadi perkawinan campuran itu adalah perkawinan antara seorang laki-laki dan perempuan yang berlainan agama.
Dari penjelasan di atas tentulah kita dapat menarik kesimpulan bahwa untuk membentuk suatu ikatan yang mendalami akan hakikat suatu pernikahan haruslah ada kesatuan dan pertemuan yang sama di dalam 2 (dua) hati anak manusia tersebut. Dalam Islam, akidah agamalah yang dapat dijadikan pedoman yang kuat.
Kaum muslim, diawal pertumbuhannya di Mekkah, tidak diperkenankan untuk mengawini musyrikah sebagaimana firman Allah :

ولاتنكحواالمشركت حتي يوء من

“Janganlah kamu sekalian (kaum muslimin) menikahi wanita-wanita musyrik sehingga mereka beriman.” (QS. Al-Baqarah : 221)

Ayat itu diturunkan untuk melarang ataupun mencegah adanya pernikahan baru dalam bentuk apapun, antara kaum muslimin dengan kaum musyrikin. Adapun perkawinan yang telah terjadi sebelum masa itu, maka masih tetap sah (tidak bercerai antara suami isteri yang berlainan agama).
Pada tahun ke-VI Hijriyah, yaitu ketika ayat 10 QS. Al-Mumtahanah diturunkan di Hudaibiyah :

ياايهاالذ ين امنوااذاجاءكمالمومنت مهجرت فامتحنوهناالله اعلم باءيمان نهن فان علمتموهن مومنت فلا ترجعوهن الى الكفارلاهن حل لهمولاهم يحلون لهن

“ Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu wanita-wanita beriman untuk berhijrah, maka ujilah mereka. Allah lebih mengetahui keimanan mereka. Lalu apabila kamu mengetahui mereka (benar-benar) beriman, maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada orang-orang kafir. Wanita-wanita itu tidak halal bagi mereka, dan merekapun tidak halal bagi wanita-wanita itu, dan berikanlah kepada mereka apa yang telah mereka nafkahkan (buat wanita-wanita itu). Dan janganlah kamu berpedang dengan akad nikah wanita-wanita kafir……”.

Dengan turunnya ayat tersebut di atas, berakhirlah segala bentuk ikatan antara kaum muslimin dengan orang-orang kafir. Selanjutnya diharamkan ikatan pernikahan antara dua insan yang berlainan akidah, karena hal itu pada qalibnya adalah suatu ikatan yang palsu dan rapuh sebab keduanya tidak bertemu di dalam garis lurus di atas manhaj (jalan, system)-Nya dalam mengatur kehidupan yang suci dan bersih.

D. Syarat-syarat Perkawinan Campuran
Masing-masing pihak harus memenuhi syarat-syarat perkawinan yang telah ditentukan oleh hukum yang berlaku bagi masing-masing pihak.
Pejabat yang berwenang mencatat perkawinan bagi masing-masing pihak, memberikan surat keterangan bahwa syarat-syarat yang ditentukan telah dipenuhi. Jika pejabat yang bersangkutan berhalangan menolak memberikan surat keterangan itu, yang berkepentingan dapat meminta keputusan pengganti keterangan dari pengadilan.
Surat keterangan atau keputusan pengganti keterangan tidak berlaku lagi jika perkawinan tidak dilangsungkan dalam masa 6 (enam) bulan sesudah surat keterangan itu diberikan.

FITRAH MANUSIA

FITRAH MANUSIA

by : Dewi Fortuna

Al-Qur’anul Karim telah menjelaskan bagaimana Allah Ta’ala menciptakan manusia yang terdiri dari unsur materi dan ruh. Allah Ta’ala telah menyempurnakan bentuk Adam AS yang berasal dari tanah dan kemudian ditiupkan ruh kedalamnya.
Allah Ta’ala berfirman :

إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِن طِينٍ .فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِي .

“(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah”. (71) Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan) Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya (72)”. (QS.Shaad : 71-72)

Hadits Rasulullah SAW juga telah menerangkan proses penciptaan manusia dari unsur materi dan ruh. Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud RA bahwa Rasulullah SAW bersabda :

ان احدكم يجمع خلقه في بطن امه اربعين يو م ثم يكون ف ذلك علقه مثل ذلك ثم يكون في ذلك مضغة مثل ذلك ثم

ير سل الملك قينفخ فيه الروح

“Sesungguhnya salah seorang dari kalian telah dikumpulkan proses peciptaannya di dalam perut ibunya selama empat puluh hari. Kemudian selama empat puluh hari dia alan menjadi ‘alaqah (segumpal daging) dan menjadi mudhghah (sekerat daging) pada empat puluh hari lagi). Setelah itu dikirim malaikat untuk meniupkan ruh kedalamya”.

Kalau demikian, pada proses penciptaan manusia telah dikumpulkan beberapa sifat binatang dan dan sifat malaikat. Dalam proses penciptaan manusia diletakkan pula beberapa kebutuhan dan motivasi fisik yang berguna untuk memelihara kelanggengan hidup yang juga dimiliki oleh binatang. Bahkan dalam proses penciptaan manusia diletakkan beberapa kebutuhan maupun motivasi spiritual yang menyebabkanya menjadi sempurna dan membuatnya memiliki nilai lebih dibandingkan semua mahluk yang lainnya. Berdasarkan potensi yang bersifat material dan spiritual inilah akhirnya manusia dijadikan khalifah di muka bumi.

Manusia dilahirkan dalam keadaan membawa fitrah. Yang dimaksud dengan fitrah disini adalah agama yang lurus, potensi untuk mengenal dan mentauhidkan Allah, cenderung kepada kebenaran dan tidak mengalami penyimpangan. Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda :

مامن مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةْ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِه

“ Tidak ada seorang jabang bayipun kecuali dia terlahir beradasrkan fitrah. Lantas kedua orang tuanyalah yang akan membuatya menjadi orang Yahudi, Nasrani maupun madjusi”.

Kesiapan yang bersifat fitrah ini butuh untuk dipupuk dan dikembangkan melalui proses pedidikan dan pengajaran. Terkadang anak kecil dihadapkan pada beberapa lingkungan yang kurang positif sehingga dia akan menyimpang dari fitrah.
Kalau manusia memiliki potensi untuk mengenal kebenaran dan melakukan amal baik, maka sebaliknya juga memiliki potensi untuk terpengaruh kondisi keluarga dan lingkungannya yang tidak positif, sehingga dia akan menyimpang dari fitrah asalnya.
Akhirnya dia pun akan cenderung kepada kebatilan dan perbuatan buruk. Oleh karena itu Rasulullah SAW bersabda : “Tidak ada seorang jabang bayipun kecuali dia terlahir beradasrkan fitrah”. Hanya saja banyak sekali pengaruh eksternal baik yang berasal dari lingkungan keluarga, lingkungan sosial masyarakat dan budaya tempat dia bertumbuh kembang mengakibatkan dia menjadi orang Yahudi, Nasrani maupun madjusi.

Rasulullah SAW juga telah meriwayatkan hadits yang berasal dari Tuhannya sebagai berikut :

اني خلقت عبادي حنفاء كلهم وا نهم اتتهم الشيا طين   فاجتا لتهم عن دينهم

“Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hambaKu dalam keadaan memeluk keyakinan yang lurus. Namun karena didatangi oleh syaithan sehingga mahluk terkutuk itu memalingkan dari agama mereka yang benar (yang lurus)”.

Dengan fitrah yang dibawa sejak lahir, manusia mampu membedakan antara yang benar maupun yang salah dan antara yang baik maupun yang buruk. Hal ini sebagaimana dia juga memiliki kesiapan untuk memilih jalan yang benar dan jalan yang sesat melalui anugerah Allah, yakni berupa kemerdekaan untuk berkehendak. Allah SWT telah berfirman :
وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ
“Dan kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan”. ( QS. Al-Balad ayat 10)

 إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا

”Sesungguhnya kami telah menunjukkinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir”. (QS. Al-Insaan ayat 3)
Rasulullah SAW bersabda :

ان الحلال بين و ان الحرام بين

“Sesungguhnya sesuatu yang halal itu sudah jelas dan sesuatu yang haram juga telah jelas”.

Melalui fitrahnya, manusia mampu mengetahui halal dan haram, benar dan salah, baik dan buruk, serta yang utama dan hina. Diriwayatkan dari Waishah bin Ma’bad RA, dia telah berkata :

يا ر سو ل الله فا خبر ني قال جيت تسال عن البر والاثم
قلت نعم فجمع اصابعهالثلاث فجعل ينكت بها في
صدري ويقول ياوا بصةاستفت نفسك البرما اطمان
اليه القلب و اطمانت اليه نفس والاثم ماحاك في
القلب وتردد في الصدر وان افتاك الناس و افتوك

“Wahai Rasulullah , beritahukan [mana saja yang termasuk kebaikan dan dosa] kepadaku!” Rasulullah bersabda, “Kamu datang untuk bertanya tentang kebaikan dan keburukan ?”, Aku menjawab “Iya”. Lantas Rasulullah mengumpulkan ketiga jarinya. Belia menusukkannya ke dadaku sembari berkata “Wahai Wabishah, mintalah fatwa kepada dirimu sendiri! Kebaikan adalah sesuatu yang dirasakan tenang oleh hati dan jiwa. Sedangkan dosa adalah sesuatu yang mengusik hati dan menciptakan kebimbangan dalam dada”.

Dengan fitrahnya manusia cenderung berbuat baik dan mencari ketenangan jiwa. Jika dia melakukan perbuatan buruk maka perasaannya akan terusik dan merasa tidak tenang. Kondisi semacam ini tidak akan dia sukai kalau sampai terdengar oleh orang lain.
Jiwa manusia akan merasa aman dengan sesuatu yang bisa menimbulkan pujian dan enggan terhadap sesuatu yang mengakibatkan celaan. Fitrah semacam ini akan terus bertumbuh kembang melalui proses pendidikan yang baik dan akan melemah kalau tidak mendapatkan pendidikan yang baik. Allah Ta’ala berfirman :

.وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا. فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا.
قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا. وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا

“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”. (QS. Asy-Syams : 7-10)

Love Is Power

Love is Power

 

oleh: Kholilur Rokhman

“Orang-orang yang beriman jauh lebih kokoh cintanya kepada Allah.” (QS. 2:165)

A. Definisi Mahabah

Dalam dunia tasawuf kata mahabah berarti cinta kepada Allah Swt. Tasawuf mendefinisikan mahabah sebagai kepatuhan kepada Allah dan menjauhi larangan-Nya; menyerahkan diri kepada seluruh Yang dikasihi; mengosongkan hari dari segala-galanya kecuali dari diri yang dikasihi. Al-Junaid menganggap mahabah sebagai suatu kecenderungan hati, maksudnya hari seseorang cenderung kepada Allah Swt. dan kepada segala sesuatu yang datang dari-Nya tanpa usaha.

Menurut Al-Ghazali, cinta kepada Allah merupakan puncak dari segala makam mistik. Setelah makam cinta, tidak ada lagi makam lain yang menandinginya. Kalaupun ada, makam itu hanya menjadi salah satu buah cinta saja, seperti kerinduan (syawq), keintiman spritual (uns), rida dan makam lain yang sejenis. Sebelum cinta juga tidak ada makam lain. Kalaupun ada, pasti akan menjadi salah satu pengantarnya saja, seperti tobat, sabar, zuhud, dan yang lain.

B. Tingkatan Mahabah

Menurut Abu Nasr as-Sarraj at-Thusi mahabah mempunyai tiga tingkat. (1) Cinta orang biasa, yaitu selalu mengingat Allah dengan zikir, suka menyebut nama Allah Swt. dan memdapatkan kesenangan dalam berdialog dengan-Nya serta memuji-Nya. (2) Cinta orang jujur, yaitu orang yang kenal kepada Allah Swt. seperti kebesaran-Nya, kekuasaan-Nya, dan ilmu-Nya. Cinta ini dapat menghilangkan tabir yang memisahkan diri seseorang dari Allah Swt. sehingga ia dapat melihat rahasia-rahasia yang ada pada Allah Swt. orang yang berada pada cinta ini akan selalu mendapatkan kesenangan dengan “berdialog” pada Allah. Dan juga, dapat membuat orang sanggup orang sanggup menghilangkan kehendak dan sifat-sifatnya sendiri, sementara hatinya penuh dengan perasaan cinta dan selalu rindu kepada Allah Swt. (3) Cinta orang arif, yaitu cinta orang yang benar-benar mengetahui Allah Swt. yang dilihat dan dirasa bukan lagi cinta, tetapi diri yang dicintai. Akhirnya, sifat-sifat yang dicintai masuk ke dalam diri yang mencintai. Cinta pada tingkat inilah yang menyebabkan seorang hamba dapat berdialog dan menyatu dengan (kehendak) Allah Swt.

Setiap orang mengakui bahwa cinta sulit untuk digolongkan, namun hal itu tidak melelahkan seseorang untuk mencoba melakukannya. Klasifikasi mistik terhadap tingkatan cinta berbeda dari analisis cinta filosofis yang legal dan sekuler. Karena, para sufi secara konsisten menempatkan cinta dalam konteks psikologi mistik mereka dari ‘keadaan’ (ahwal) dan makam, dengan penekanan pada cinta sebagai transenensi diri. Lebih-lebih, cinta dalam beragam bentuknya demikian penting, sehingga ia secara umum diakui sebagai, “tujuan tertinggi dari seluruh makam dan puncak tertinggi dari segala tingkatan,” dalam istilah Abu Hamid Al-Ghazali.

C. Dasar Mahabah

Banyak sekali yang mendasari paham mahabah baik itu dari Alquran, hadis maupun dari sahabat dan ulama. Untuk itu mari kita perhatikan sebagai berikut:

“Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [1]

…Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya,…[2]

“Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan perbuatan-perbuatan, hingga Aku cinta padanya. Orang yang Ku-cintai menjadi telinga, mata, dan tangan-Ku.” [3]Hadis ini, memberikan pengertian bahwa Tuhan dan makhluk dapat dipersatukan melalui paham cinta.

Rasulullah saw. menjadikan cinta kepada Allah sebagai bagian dari syarat keimanan. Hal ini dinyatakan dalam banyak hadis, antara lain ketika Abu Ruzayn al-‘Uqayli bertanya kepada Rasulullah saw., “Apakah iman itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Iman itu mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi apa pun.”[4]

Hadis yang lain menyebutkan, “Seseorang belum dianggap beriman sampai aku lebih dicintai jauh melebihi cintanya kepada keluarga, harta, dan seluruh manusia.”[5] Dalam sebuah riwayat disebutkan, “…jauh melebihi cintanya kepada dirinya sendiri.”

Rasulullah saw. juga memerintahkan kita agar mencintai Allah Swt., “Cintailah Allah, karena Dia telah melimpahkan nikmat kepadamu. Dan, cintailah aku, karena Allah mencintaiku!”[6]

Dalam sebuah hadis terkenal disebutkan, ketika malaikat kematian datang hendak mencabut nyawa Ibrahim a.s., beliau bertanya pada malaikat ini, “Pernahkah kamu dapati seorang kekasih ingin membunuh kekasihnya?” Atas pertanyaan Ibrahim, Allah kemudian menurunkan wahyu, “Pernahkah kamu dapati seorang pencinta yang tak ingin berjumpa dengan kekasihnya?” Ibrahim a.s. pun berkata, “Wahai, Malaikat Kematian, sekarang cabutlah nyawaku!”[7]

Pengalaman Nabi Ibrahim di atas hanya mungkin terjadi pada hamba yang mencintai Allah dengan sepenuh hati. Ketika ia mengetahui bahwa kematian menjadi jembatan menunju perjumpaan dengan Sang Kekasih, hatinya jadi dirundung gelisah. Ia sadar, hanya Allahlah Sang Kekasih. Tak ada yang lain. Ia pun langsung berpaling dari selain Allah Swt.

Salah satu doa Nabi saw. berbunyi, “Ya, Allah! Jadikanlah aku orang yang mencintai-Mu, mencintai orang yang mencintai-Mu, dan mencintai segala sesuatu yang dapat mendekatkan cintaku kepada-Mu. Dan, jadikanlah cintaku kepada-Mu melebihi air sejuk sekalipun.”

Abu Bakr al-Shiddiq r.a. menuturkan, “Orang yang sudah merasakan nikmatnya mencintai Allah secara tulus akan senantiasa sibuk dengan cintanya itu, sehingga tidak ada kesempatan sedikit pun untuk berurusan dengan dunia. Ia pun akan menghindar dari hiruk-pikuk kehidupan manusia.”

‘Abd al-Wahid ibn Zayd bercerita, “Suatu kali aku bertemu dengan seorang lelaki yang sedang berdiri di atas salju. Aku bertanya, ‘Apa kamu tidak merasa dingin?’ Dia menjawab, ‘Orang yang sibuk dengan cinta kepada Allah tidak akan merasakan dingin sedikit pun.’”

Sarri al-Saqathi berkata, “Pada Hari Kiamat nanti setiap umat akan dipanggil sesuai dengan nama nabi masing-masing. Mereka akan dipanggil, ‘Wahai umat Musa!’ ‘Wahai umat ‘Isa!’ ‘Wahai umat Muhammad!’ Namun, tidak demikian halnya dengan mereka yang mencintai Allah. Mereka akan dipanggil, ‘Wahai kekasih-kekasih Allah, kemarilah ke sisi-Ku!’ Hampir copot hati mereka karena saking bahagianya mendengar panggilan itu.”

Menurut Harm ibn Hayyan, “Ketika seorang mukmin sudah mengenal Tuhannya Yang Mahaagung dan Mahamulia, ia pasti akan mencintai-Nya. Setelah mencintainya, ia pasti akan menghampiri-Nya. Kala mencicipi manisnya dekat dengan-Nya, ia pasti tidak akan memandang dunia dengan tatapan mata nafsu. Demikian juga ia tidak akan memandang akhirat dengan tatapan mata sayu. Di dunia, menghadap Allah membuatnya begitu lelah. Namun, di akhirat, hal itu membuatnya lega dan nikmat.”

Dalam sebagian kitab Allah disebutkan, “Wahai hambaku, demi hakmu, Aku mencintaimu. Dan, demi hak-Ku padamu, hendaklah kamu mencintai-Ku!”

Banyak sekali hadis dan tradisi ulama terdahulu yang berbicara tentang cinta kepada Allah ini. Tidak mungkin semua dapat ditampung di sini.

D. Hakikat dan Faktor Penyebab Cinta

Membahas cinta itu tidak terlepas dari hakikat, syarat, dan faktor penyebab cinta. Maka, berikut penjelasan mengenai hakikat cinta:

Prinsip pertama cinta mengenal terlebih dulu objek yang menjadi sasaran cinta itu, sebelum mendeskripsikan cinta. Sebab, kenyataannya manusia hanya mencintai apa yang ia kenal. Cinta itu sendiri juga tidak pernah dialami benda-benda mati. Cinta hanya dialami benda-benda hidup yang sudah terlebih dulu mengenal objek yang dicintainya.

Ada tiga jenis objek yang dikenal manusia. Pertama, objek yang sesuai dan seirama dengan naluri kemanusiaannya, yang bisa menimbulkan perasaan puas dan nikmat. Kedua, objek yang bertentangan dan berlawanan dengan naluri kemanusiaannya, yang menimbulkan perasaan pedih dan sakit. Ketiga, objek yang tidak menimbulkan pengaruh apa-apa terhadap naluri kemanusiaannya. Tidak menikmatkan juga tidak menyakitkan.

Jika objek itu menimbulkan kesan kenikmatan dan kepuasan, pasti akan dicintai. Jika objek itu menimbulkan kesan yang menyakitkan, pasti akan dibenci. Dan, jika objek itu tidak menimbulkan kesan apa-apa, pasti tidak akan dicintai atau dibenci.

Jika demikian, manusia baru akan mencintai sesuatu yang nikmat kalau ia sudah merasakan nikmatnya sesuatu itu. Yang dimaksud cinta di sini adalah rasa yang secara naluriah cenderung atau suka terhadap sesuatu tertentu. Sementara itu, yang dimaksud benci adalah rasa yang secara naluriah membuat berpaling dari sesuatu tertentu. Dengan demikian dapat disimpulkan, cinta adalah suatu ungkapan akan kecenderungan hati terhadap segala sesuatu yang menimbulkan kenikmatan dan kepuasan. Jika kecenderungan itu menguat dan bertambah besar, maka itu yang dinamakan dengan ‘isyq (cinta yang memabukkan). Bila demikian dengan cinta, maka benci adalah suatu ungkapan akan keberpalingan hati dari sesuatu yang menyakitkan dan membosankan. Jika kecenderungan negatif ini menguat, makan itu yang dinamakan dengan maqt (kebencian yang memuncak).

Prinsip kedua cinta adalah mengenal ragam cinta. Karena cinta muncul setelah terlebih dulu mengenal dan mengetahui, itu berarti cinta memiliki banyak ragam, sesuai dengan objek yang dikenal dan diketahuinya serta indra yang ada. Setiap indra mengenal hanya satu jenis objek. Masing-masing hanya merasa nikmat terhadap objek tertentu saja.

Nikmat yang dirasakan indra penglihat adalah memandang dan mengetahui objek yang indah serta gambar atau lukisan yang bagus, elok, dan mengesakan. Nikmat yang dirasakan indra pendengar adalah mendengarkan simfoni yang indah dan menggetarkan. Nikmat yang dirasakan indra pencium adalah mencium aroma yang harum. Nikmat yang dirasakan indra perasa dalah mencicipi makanan yang enak-enak. Nikmat yang dirasakan indra peraba adalah sentuhan-sentuhan halus dan lembut.

Karena masing-masing objek yang dikenal pancaindra itu menimbulkan kenikmatan tersendiri, ia pun dicintai oleh indra itu. Artinya, naluri sehat kita menyukainya. Oleh karena itu, Rasulullah saw. bersabda, “Ada tiga hal yang aku cintai dari dunia ini: parfum, wanita, dan kenikmatan dalam salat.”[8] Dalam hadis ini parfum disebut sebagai sesuatu yang beliau cintai. Padahal seperti diketahui, parfum hanya dirasakan oleh indra pencium, bukan indra penglihat atau pendengar. Wanita juga disebut sebagai sesuatu yang beliau cintai. Padahal kita ketahui, yang merasakan nikmatnya wanita hanyalah indra penglihat dan peraba, bukan indra pencium, perasa, dan pendengar. Demikian pula salat disebut sebagai sesuatu yang paling beliau cintai. Padahal kita ketahui, yang merasakan nikmatnya salat itu bukan indra yang lima, tetapi indra keenam yang disebut dengan hati. Oleh karenanya, hanya orang yang mempunyai hati yang bisa merasakan betapa nikmatnya salat.

Indra yang lima dimiliki baik oleh manusia maupun binatang. Apabila cinta hanya sebatas apa yang dikenali pancaindra, maka timbul pertanyaan. “Mungkinkah Allah Swt. dicintai, sementara Dia tidak dapat dikenali lewat pancaindra dan tidak dapat digambarkan dalam khayal?” Lebih lanjut, jika hanya mengandalkan pancaindra, maka pertanyaanya, “Apa ciri khas manusia sebagai makhluk?” Manusia itu istimewa karena dilengkapi dengan fasilitas istimewa berupa indra keenam berupa akal, nur, hati, atau apa pun istilahnya.

Dengan demikian, pandangan mata batin jauh lebih kuat dibandingkan pandangan mata lahir. Hati memiliki kemampuan mengetahui yang jauh lebih besar dibandingkan mata. Keindahan rohani yang diperoleh dengan kekuatan akal jauh lebih mengesankan dibandingkan keindahan gambar atau lukisan yang ditangkap indra penglihat. Oleh karena itu dapat dipastikan bahwa kenikmatan yang dirasakan hati—setelah ia mengetahui berbagai nilai keagungan dan ketuhanan yang tidak mampu dicapai oleh pancaindra—jauh lebih sempurna dan lebih memuncak. Tak heran bila kecenderungan naluri dan akal sehat kepada yang demikian itu pasti lebih kuat. Dan, cinta tidak dapat diartikan lain kecuali sebagai kecenderungan atau kesenangan terhadap sesuatu yang diketahui bisa memberikan kenikmatan.

Prinsip ketiga adalah mengenali untuk siapa cinta itu diberikan. Seperti diketahui, manusia jelas mencintai dirinya sendiri. Jika ia mencintai orang lain, itu pun demi dirinya sendiri. Bisakah tergambar dalam pikiran kita, manusia mencintai orang lain demi orang lain, bukan demi dirinya sendiri? Saya yakin masalah ini akan sulit dipahami oleh orang yang kualitas pemikirannya masih dangkal. Bahkan, bagi orang yang demikian, sungguh tidak masuk akal membayangkan seseorang mencintai orang lain demi orang lain itu. Tidak ada timbal balik apa pun terhadap orang yang mencinta itu kecuali semata-mata karena dia mengenal orang lain yang dicintainya itu. Tidak ada yang berhak untuk dicintai kecuali Dia. Dia itu Allah Swt.

E. Cerita Cinta Pecinta

1. Rabial Al-Adawiyah (95-185 H/713-801 M)

Menurut Rabiah cinta kepada Allah Swt. adalah memusatkan seluruh jiwa kepada Allah Swt. Untuk membuang segala yang lain. Hal ini terlihat dalam setiap puisi-puisi yang dilantunkannya. Rabiah selalu melantunkan sebuah puisi yang berisi sebuah kritikan sosial. Ia selalu mengingatkan kepada umat manusia bahwa janganlah beribadah kepada Allah hanya mengharap surga dan takut akan surga. Beribadahlah kepada Allah hanya karena cinta dan rindu kepada-Nya. Suatu ketika, Al-Tsawri bertanya kepada Rabi‘ah, “Apa hakikat imanmu?” Dia menjawab, “Aku tidak menyembah-Nya karena takut neraka atau berharap surga. Aku tidak seperti buruh jahat. Aku menyembah-Nya semata karena cinta dan rindu pada-Nya.” Adapun puisi-puisi itu sebagai berikut:

Aku mengabdi kepada Allah bukan karena takut kepada neraka

Dan bukan pula karena ingin masuk surga

Aku hanya mengabdi karena cintaku dan rinduku kepada-Nya

***

Tuhanku jika aku memuja Engkau karena takut neraka

Maka bakarlah aku di dalamnya

Dan jika aku memuja kepada Engkau karena mengharap surga

Maka jauhkanlah aku darinya

Akan tetapi jika aku memuja hanya semata-mata karena Engkau

Maka janganlah Engkau sembunyikan kecantikan yang kekal itu

Perasaan cinta yang telah meresap ke dalam lubuk hati Rabiah menyebabkan ia mengorbankan hidupnya semata-mata untuk beribadah kepada Allah Swt. Cinta Rabiah kepada Allah Swt. merupakan cinta suci, murni, dan sempurna seperti yang disenandungkan dalam syairnya sebagai berikut:

Aku mencintai-Mu dengan dua cinta:

Cinta egois (hawa) dan cinta yang layak Engkau terima

Cinta egosi adalah cintaku dalam mengingat-Mu dan tiada lagi yang lain

Tetapi demi cinta yang layak Engkau terima

Engkau akan sibakkan selubung itu agar aku melihat-Mu

Tiada pujian untukku dalam cinta mana pun

Segala puji itu milik-Mu dalam cinta yang ini dan cinta yang itu.

Buah hatiku hanya Engkaulah yang kukasihi

Beri ampunlah pembuat dosa yang datang ke hadirat-Mu

Engkaulah harapnku, kebahagianku, dan kesenanganku

Hatiku enggan mencintai selain Engkau

Cinta yang mendalam kepada Allah Swt. begitu memenuhi seluruh jiwanya, sehingga ia selalu menolak seluruh tawaran menikah baik tawaran yang berasal dari gubernur sekalipun maupun tokoh sufi terkemuka. Dirinya hanya milik Allah yang dicintainya.

Ada sebuah pertanyaan yang menghampirinya, “Apakah engkau membenci setan?” dia menjawab, “Tidak, cintaku kepada Tuhan tidak meninggalkan ruang kosong dalam diriku untuk rasa benci pada setan.” Demikian pula ketika ditanya tentang cintanya kepada Nabi Muhammad Saw. Rabiah menjawab, “Saya cinta kepada Nabi Muhammad Saw. siapa yang tidak mencintai Nabi dari seluruh alam ini? Tetapi cinta yang aku persembahkan kepada Allah Swt. memalingkan diriku dari cinta kepada hambanya.”

Rabiah adalah sosok yang selalu terlihat sedih dan banyak menangis. Setiap kali dia mendengar neraka disebutkan, dia langsung pingsan pada saat itu juga. Dia berkata, “Istigfar tidak memerlukan istigfar lainnya.” dia juga selalu menolak pemberian orang kepadanya dan berkata, “Aku tidak lagi memerlukan dunia.”

Suatu hari Rabi‘ah al-‘Adawiyyah berkata, “Siapa yang dapat menunjukkan saya bertemu Sang Kekasih?” Pelayannya menjawab, “Sang Kekasih bersama kita, tetapi dunia menghalangi kita bertemu dengan-Nya.”

Suatu saat Rabi‘ah ditanya, “Apa pendapat Anda tentang surga?” Dia menjawab, “Pasangan dan rumah.” Kemudian ia menambahkan, “Hatiku tak pernah menoleh ke surga. Aku terfokus kepada Sang Pemilik surga. Siapa saja tidak mengenal Allah di dunia, maka ia tidak akan mengenal-Nya besok di akhirat. Siapa yang tidak memperoleh kenikmatan makrifat di dunia, maka ia tidak akan memperoleh kenikmatan menatap wajah Allah besok di akhirat. Sebab, tidak ada yang muncul tiba-tiba di akhirat. Semua harus dibawa dari dunia. Seseorang tidak akan menuai selain apa yang ia tanam. Pada Hari Kiamat nanti setiap orang akan dikumpulkan sesuai dengan bagaimana keadaan ketika ia menyambut kematian, karena semua manusia akan mati sesuai keadaan ketika ia menjalani kehidupan.”

2. Jalaludin Ar-Rumi (604-670 H/1207-1273 M)

Cinta adalah realitas abadi, namun ia cenderung memudar dan menghilang. Cinta sejati bergantung pada pemahaman.

Cinta adalah api berkobar

Pecinta adalah buah kemilau di antara bintang-bintang (Rumi)

***

Tanah bukanlah debu

Tapi kapal yang bersimbah darah, darah pecinta

Tanpa kata-kata-Mu jiwaku kehilangan telinga

Tanpa telinga-Mu jiwaku kehilangan lidah

Pada kutipan “Tanah bukanlah debu” Rumi menggunakan imaji-imaji yang dramatis dan jarang digunakan oleh penyair sufi yang lain. Coba kita perhatikan kutipan puisi di atas. Cinta itu menuntut pengorbanan yang besar

Rumi menyatakan melalui puisi-puisinya bahwa pemahaman atas dunia hanya mungkin lewat cinta, bukan semata-mata dengan kerja yang bersifat fisik. Cinta manusia, menurut Rumi mempunyai beberapa tahapan sebagai berikut: Pertama, memuja segala hal, yaitu orang, wanita, harta dan tahta. Kedua, memuja Tuhan. Ketiga, cinta mistis, yaitu seseorang tidak mengatakan ia memuja Tuhan atau tidak. Tahapan ketiga ini, memberikan pengertian Tuhan menjadi berbeda dengan pengertian orang atheis yang penuh kontradiksi.

Menurut Rumi, manusia senatiasa tidak puas. Nafsunya selalu ingin terpenuhi. Karena, itu ia harus bertarung melalui segala usaha dan ambisi. Namun, baru dalam hal cintalah ia akan menemukan kepuasaan.

Cinta adalah sesuatu yang sungguh-sungguh, karena itu membutuhkan kesungguhan pula. Dan cara yang baik harus ditempuh untuk mencapainya, seperti ia tulis dalam puisinya:

Air butuh perantara supaya panas
Yaitu periuk dan api

Cinta yang dimaksud Rumi disini termasuk lenyapnya ke-diri-an, yaitu kesatuan sempurna kekasih Tuhan, dengan Tuhan. Ketiadaan diri, yang menjadi hakekat cinta kesufian adalah terjemahan mistis dan kreatif dari hadis Nabi yang menyebutkan bahwa “Kemiskinan adalah tetanggaku.” Kemiskinan di sini diartikan sebagai kemiskinan diri atau ketiadaan diri serta terkendalinya hawa nafsu keduniawian. Dengan ketiadaan diri berarti terbuka bagi memancarnya cahaya Ilahi. Bukankah ketiadaan diri berarti hanya Tuhan yang ada?

Jadi tujuan peniadaan diri ini, tiada lain adalah untuk memperterang jalan yang akan ditempuh menuju ke pemahaman kenyataan bahwa tidak ada wujud hakiki kecuali Tuha. “Aku Tiada,” berarti, “Tuhan adalah segala-galanya.” Rumi melukiskan cinta kerohanian semacam ini dalam puisinya:

Dari tubuh Kau jauh, tapi dalam hatiku ada jendela menghadap-Mu
Lewat rahasi jendela itulah, seperti bulan, kukirim pesan kepada-Mu

Bagi sufi hanya hatilah tempat menerima kehadiran Tuhan. Bukan akal. Hal ini sering kali diucapkan oleh Rumi dalam puisi-puisinya.

Karena cinta

Kematian berubah menjadi kehidupan

Puisi tersebut, mengingatkan kita pada kisa Al-Hallaj yang telah dipenggal. Bagi seorang sufi, kematian adalah suatu tanda kehidupan yang baru. Kematian yang dimaksud adalah kematian dalam mencapai makrifat. Karena, hidup sebagai orang biasa yang terikat pada dunia semata adalah fana, sedangkan hidup dalam api ketuhanan bersifat kekal. Hal ini juga diungkapkan oleh Rumi dalam puisi-puisinya:

Bila seseorang memperoleh wujud luar seperti musim dingin

Ia punya harapan memperoleh musim semi di dalam dirinya sendiri

Ungkapan musim dingin menunjuk pada beku, mati sebelum seseorang mati. Maksudnya lenyap keinginan dunianya, dan telah berada dalam kondisi kezuhudan, mekipun tetap menjalankan kehidupan di dunia dengan kewajiban-kewajiban sebagai manusia.

Siapasaja menuju kekasih Ilahi

Ia memuja cahaya Ilahi dalam dirinya

Siapasaja memuja matahari

Ia memuja matanya sendiri

Matahari di sini adalah perlambang dari penglihatan batin dan cahaya ketuhanan, dan Rumi tidak mengajak kita melakukan pemujaan seperti orang Politeis di Mesir atau India.

Hati ngilu inilah yang memberingkan birahi telanjang pencinta

Tiada sakit dengan hati yang menyembuhkan luka seperti itu

Cinta adalah rasa pilu karena berpisah

Dan bola kaca rahasia-rahasia Tuhan.

Apakah ia buatan langit ataupun bumi

Cinta akan membimbing kita ke sana pada akhirnya

Pikiran akan gagal menerangkan cinta

Seperti keledai di Lumpur: cinta sendirilah pengurai cinta

Tidakkah matahari sendiri yang menerangkan matahari?

Kenali ia! Seluruh bukti yang kau cari ada di sana

 

3. Abu Bakar

Rasulullah saw. suatu kali berkata kepada Abu Bakr, “Sesungguhnya, Allah Swt. telah memberimu keimanan seperti keimanan seluruh umatku yang beriman kepadaku. Dia memberiku keimanan seperti keimanan seluruh anak-cucu Adam yang beriman kepada-Nya.”[9]

Dalam hadis lain, beliau juga bersabda kepada Abu Bakr, “Allah mempunyai tiga ratus perangai akhlak. Siapa saja yang dikaruniai salah satu perangai akhlak-Nya itu diserti tauhid, maka ia dijamin masuk surga.” Abu Bakr bertanya, “Rasulullah, apakah salah satu perangai akhlak-Nya itu ada padaku?” Beliau menjawab, “Semua ada padamu, wahai Abu Bakr. Salah satu yang paling dicintai Allah adalah kedermawanan.”[10]

Beliau juga bersabda, “Aku melihat timbangan digantung dari langit. Aku diletakkan di satu anak timbangan, sedangkan umatku di letakkan di anak timbangan satunya lagi. Ternyata aku lebih berat dibandingkan dengan mereka semua. Lalu, Abu Bakr diletakkan di satu anak timbangan, sedangkan umatku dikumpulkan lalu diletakkan di anak timbangan satunya lagi. Ternyata ia juga lebih berat dibandingkan dengan mereka semua.”[11]

Namun bersama itu semua, hati beliau sudah tenggelam habis dalam Allah sehingga tak ada lagi celah sedikit pun bagi selain Dia. Tidak heran bila beliau bersabda, “Kalau aku boleh menjadikan manusia sebagai temanku, pasti aku menjadikan Abu Bakar sebagai temanku. Namun, teman kalian ini adalah teman Allah Swt.”[12] Maksudnya, diri beliau sendiri.

4. Kisah Seorang Arif

Seseorang berkata kepada salah seorang arif, “Bukankah kamu seorang pencinta?” Dia menjawab, “Tidak, aku bukan seorang pencinta, tetapi akulah kekasih yang dicinta. Seorang pencinta tersiksa oleh rasa lelah.” Orang itu berkata lagi, “Banyak orang berkata bahwa kamu adalah salah satu dari tujuh wajah dirimu sendiri.” Dia menjawab, “Aku adalah ketujuh wajah itu secara utuh.”

Dia juga pernah berkata, “Jika kamu melihat diriku, maka pasti kamu akan melihat empat puluh wajah.” Lalu ia ditanya, “Bagaimana bisa, sedangkan kamu hanya satu?” Ia menjawab, “Sebab, aku melihat empat puluh wajah. Setiap wajah adalah cermin dari akhlak-Nya.”

Ada orang bertanya, “Aku dengar kamu melihat Khidir as.” Mendengar pertanyaan itu, ia tersenyum, lalu berkata, “Orang yang melihat Khidir itu tidak aneh. Yang aneh justru kalau Khidir ingin melihat orang itu, tetapi Khidir tak bisa melihatnya.”

Diceritakan bahwa Khidir pernah berkata, “Sehari pun belum pernah terjadi ada wali Allah yang tidak aku ketahui. Sampai pada suatu hari aku melihat seorang wali yang tidak aku kenali.”

Dalam salah satu keterangan disebutkan bahwa Allah Swt. berkata kepada salah seorang nabi, “Sesungguhnya, orang yang Aku jadikan sebagai teman-Ku hanyalah orang yang tak kenal lelah berzikir mengingat-Ku, tak punya keinginan lain selain Aku, dan tak pernah mendahulukan apa pun dari makluk-Ku sebelum Aku. Jika ia dibakar dengan api, maka ia tak merasa sakit. Jika ia dipotong-potong dengan gergaji, maka ia tidak merasa sentuhan besi itu menimbulkan rasa sakit. Lalu, orang yang kualitas cintanya tidak mencapai taraf seperti ini, bagaimana mungkin ia dapat mengetahui karamah dan mukasyafah yang ada di balik iman? Semua itu terdapat di balik cinta, sedangkan cinta terdapat di balik iman yang sempurna. Sementara itu, maqam-maqam iman dan perubahannya menjadi berkurang atau bertambah tidak terhitung jumlahnya.”

F. Komentar Cinta dari Para Pencinta

Abu Sofyan berkata, “Cinta adalah mengikuti Rasulullah saw.” Yang lain berkata, “Cinta adalah tenggelam selamanya dalam zikir mengingat Allah.” Yang lain lagi berkata, “Cinta adalah mengutamakan Sang Kekasih.” Sebagian yang lain lagi berkata, “Cinta adalah kebencian terhadap keabadian hidup di dunia.”

Itu semua merupakan ungkapan yang merujuk pada buah dari cinta. Mengenai substansi dari cinta itu sendiri, mereka cenderung tutup mulut dan tidak berani melukiskan dengan kata-kata. Salah seorang sufi berkata, “Hakikat makna cinta bersumber dari Sang Kekasih. Hati tak mampu menangkapnya. Lidah juga tak mampu mengungkapkannya.”

Al-Junaid berkata, “Allah mengharamkan cinta bagi orang yang di hatinya masih terdapat ketergantungan kepada selain Dia.” Masih kata al-Junayd, “Cinta adalah kesetiaan. Jika kesetiaan telah hilang, maka hilanglah rasa cinta.” Dzu al-Nun al-Mishri berkata, “Katakan kepada orang yang menunjukkan rasa cinta kepada Allah Swt., ‘Hati-hati, jangan sampai tunduk kepada selain Allah.’”

Al-Syibli berkata dalam senandung syair berikut:

Wahai Tuan Yang Mulia

Cinta-Mu menancap di pangkuan hamba

Wahai Yang mengangkat kantuk dari pelupuk mata

Engkau Mahatahu apa yang terlintas dalam dada

Yang lain juga bersyair:

Aku salut pada siapa yang berkata,

“Kuingat Karibku senantiasa”

Pernahkah aku melupakan Dia?

Aku akan ingat apa yang kulupa!

***

Aku telah mati

Begitu mengingat-Mu hidup kembali

Kalau bukan karena baik sangka

Mana mungkin aku kembali bernyawa?

***

Aku hidup karena secercah harapan

Aku mati karena segudang kerinduan

Berapa kali sudah aku hidup karena-Mu

Berapa kali sudah aku mati karena-Mu

***

Kuteguk cinta, gelas demi gelas

Tak habis-habis, tak puas-puas

Semoga membayangkan Dia

Dia hadir di depan mata

Sebab jika tak kulihat Dia

Pasti aku menjadi buta

Ibn al-Jala’ rahimahu Allah bercerita, “Allah mewahyukan kepada ‘Isa, ‘Sungguh, jika Aku menampakkan diri dalam rahasia hati seorang hamba, maka pasti tak akan Kutemukan lagi rasa cinta kepada dunia dan akhirat dalam hatinya. Sebab, Aku sudah memadatinya dengan cinta-Ku dan Aku kepung dia dengan penjagaan-Ku.’”

Ibrahim ibn Adham berkata, “Tuhanku, Engkau tahu bahwa surga tak sebanding dengan selembar sayap nyamuk pun bagiku di sisi cinta yang Engkau anugerahkan padaku, Engkau bahagiakan aku dengan zikir menyebut-Mu, dan Engkau lapangkan aku untuk memikirkan kebesaran-Mu.”

Al-Sarri rahimahu Allah berkata, “Siapa yang mencintai Allah, maka ia pasti hidup. Siapa mencintai dunia, maka ia pasti terkebiri. Orang bodoh, pagi dan sore, senantiasa lalai. Orang berakal senantiasa memeriksa aib dan kekurangannya.”

Nabi ‘Isa pernah ditanya mengenai amal paling utama di sisi Allah. Beliau menjawab, “Rida dan cinta kepada Allah.”

Abu Yazid Al-Busthami berkata, “Seorang pencinta adalah orang yang tidak mencintai dunia atau akhirat. Ia hanya mencintai Sang Tuan, hanya Sang Tuan.”

Al-Syibli berkata, “Cinta itu nikmatnya begitu dahsyat, namun keagungannya begitu membigungkan.”

Konon, cinta tidak mementingkan diri sendiri, sehingga tidak ada sesuatu pun dalam diri, dari diri, untuk diri. Cinta adalah keakraban hati dengan Sang Kekasih, diliputi perasaan senang dan bahagia.

Al-Khawwash pernah berkata, “Cinta adalah menghapus segala keinginan, juga membakar seluruh sifat dan kebutuhan.”

Sahl pernah ditanya tentang cinta. Ia menjawab, “Belas kasih Allah dalam hati hamba-Nya, agar ia dapat menyaksikan-Nya setelah memahami maksud dan keinginan dari-Nya.”

Harm ibn Hayyan berkata, “Ketika mengenal Tuhannya, seorang mukmin pasti akan mencintai-Nya. Ketika sudah mencintai-Nya, ia pasti akan datang menghadap kepada-Nya. Ketika ia merasakan manisnya menghadap kepada-Nya, ia pasti tidak memandang dunia dengan mata bernafsu dan tidak memandang akhirat dengan mata berbunga-bunga. Memang, di dunia begitu meletihkan, tetapi di akhirat begitu menyenangkan.”

‘Abdullah ibn Muhammad bertutur, “Aku pernah mendengar seorang wanita ahli ibadah berkata dalam isak tangis dan air mata bercucuran di pipinya, ‘Demi Allah, aku sudah bosan hidup. Andai maut diperjualbelikan, pasti sudah kubeli, demi cinta dan kerinduanku bertemu dengan-Nya.’ Lalu aku bertanya, ‘Kamu begitu percaya dengan amalmu?’ Ia menjawab, ‘Tidak, aku hanya mencintai-Nya, berbaik sangka pada-Nya. Kubiarkan Dia menyiksaku, yang penting aku mencintai-Nya!’”

Allah mewahyukan kepada Dawud as., “Kalau saja orang yang merenungkan Aku itu tahu, betapa Aku menunggu kedatangan mereka, betapa Aku selalu menemani mereka, dan betapa Aku rindu untuk menyingkirkan kemaksiatan dari mereka, maka pastilah mereka akan mati karena rindu bertemu Aku. Tulang-belulang mereka juga pasti terpotong-potong karena kecintaan mereka kepada-Ku. Wahai Dawud, inilah kehendak-Ku terhadap orang-orang yang merenungkan Aku. Bayangkan, bagaimana kehendak-Ku kepada orang-orang yang menghadap Aku? Wahai Dawud, sesuatu yang paling aku butuhkan dari seorang hamba adalah ketika ia tak lagi membutuhkan Aku (untuk memenuhi keinginannya itu). Sesuatu yang paling aku sayangi pada hambaku adalah ketika ia merenungkan Aku. Dan, sesuatu yang paling agung bagiku adalah ketika ia kembali kepada-Ku.”

Abu Khalid al-Shaffar bercerita, “Salah seorang nabi bertemu dengan seorang ahli ibadah. Ia berkata, ‘Kalian, wahai hamba-hamba Allah, telah melakukan amal yang tidak pernah dilakukan kami para nabi. Kalian melakukan amal karena takut dan berharap sesuatu, sementara kami melakukan amal karena cinta dan kerinduan.’”

Al-Syibli rahimahu Allah bertutur, “Allah mewahyukan kepada Dawud, ‘Wahai Dawud, Aku hanya ingat kepada orang yang mengingat-Ku. Surga-Ku hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang taat. Aku hanya berkunjung kepada orang-orang yang merindukan Aku. Secara khusus, Aku adalah milik orang-orang yang mencintai-Ku.”

Allah Swt. mewahyukan kepada Nabi Adam as., “Wahai Adam, siapa saja yang mencintai Sang Kekasih, maka ia pasti membenarkan apa pun yang diucapkan. Siapa saja yang merasa damai bersama Sang Kekasih, maka ia pasti rida terhadap apa pun yang dilakukan. Siapa saja yang betul-betul merindukan-Nya, maka ia pasti berjalan menemui-Nya tanpa kenal lelah.”

Al-Khawash rahimahu Allah memukul-mukul dadanya dan berkata, “Alangkah rindunya hati ini kepada Zat yang melihatku, tetapi aku tak melihat-Nya.”

Al-Junayd rahimahu Allah bertutur, “Yunus as. menangis hingga buta, berdiri hingga doyong, dan bersalat sampai terduduk, seraya berkata, ‘Demi kemulian dan keagungan-Mu, andai antara aku dan Engkau terbentang lautan api, maka pasti kuarungi demi kerinduanku pada-Mu.”

‘Ali karrama Allah wajhah bercerita, “Aku bertanya kepada Rasulullah saw. tentang sunah beliau. Beliau menjawab, ‘Makrifat adalah harta kekayaanku, akal adalah pangkal agamaku, cinta adalah asasku, kerinduan adalah kendaraanku, zikir mengingat Allah adalah kedamaianku, kepercayaan adalah harta simpananku, kesedihan adalah sahabatku, ilmu adalah senjataku, kesabaran adalah selendangku, rida adalah harta rampasan perangku, kelemahan adalah kebanggaanku, zuhud adalah mata pencahariaanku, keyakinan adalah kekuatanku, kejujuran dan penolongku, ketaatan adalah kecintaanku, perjuangan adalah akhlakku, dan puncak kesenanganku dalam salat.’”[13]

Dzu al-Nun al-Mishri berkata, “Mahasuci Zat yang menjadikan ruh sebagai bala tentara. Ruh para arif begitu agung dan suci. Oleh karena itu, mereka rindu bertemu Allah Swt. Ruh orang mukmin bersifat rohaniah. Mereka mengelu-elukan surga, sedangkan ruh orang-orang lupa bersifat hawa nafsu. Oleh karena itu, mereka condong menyukai dunia.”

Salah seorang syekh pernah melihat seorang laki-laki di Gunung Likam. Ia berkulit sawo matang, tubuhnya lemah, melompat dari satu batu ke batu lainnya. Kudengar lelaki itu bersenandung berikut:

Cinta dan kerinduan

Telah membuat aku jadi begini

Seperti yang kau lihat ini

Ada yang mengatakan, “Kerinduan adalah bola api yang dinyalakan Allah dalam hati kekasih-kekasih-Nya dan membakar seluruh isi yang ada: berjuta kecemasan, bermacam keinginan, berbagai rintangan, dan beragam kebutuhan.

 


DAFTAR PUSTAKA

Alquranul-Karim

Muslim, Imam, Shahih Muslim, Dar al-Fikr, Beirut, t.th

Al-Bukhari, Imam, Shahih Al-Bukhari, Beirut: Dar al-Fikr, t.th

Nasa’i, Imam, Sunan Nasa’I, Beirut: Dar al-Jail, t.th

Tirmizi, Imam, Sunan Tirmizi. Semarang: Thaha Putera, t.th

W. M., Abdul Hadi, “Rumi Sufi dan Penyair” Bandung: Penerbit Pustaka, 1985.

Lawrence, Bruce B., “The Heritage of Sufism; Classical persian from it Origin to Rumiterj. Ribut Wahyudi, judul, “Cinta, guru, dan Kewalian” Yogyakarta: Pustaka Sufi, 2003

Al-Sya’rani, ‘Abd Wahhab, “Tabaqatul-Kub Al-Musamat bi lawaqih Al-Anwar fi Tabaqatil-Akhyarterj. Syarif Hade Masyah, Lc., M.Hum, judul, “Beranda Sang Sufi” Jakarta: Hikmah-Mizan, 2003

Al-Ghazali, Imam Muhammad, “al-Mahabbah wasy-Syawq wal-Uns war-ridhaterj. Asyari Khatib, judul, “Rindu Tanpa Akhir” Jakarta: Serambi, 2005

Redaksi, Team, Departemen Pendidikan Nasional. Ensiklopedi Islam. cet. Kesepuluh, Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve, 2002

Siregar, Prof. H. A. Rivay, “Tasawuf Dari Sufisme Klasik ke Neo-Sufisme” cet. Kedua, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2000


[1] QS. 3:31

[2] QS. 5:54

[3] HR. Al-Bukhari dan Hanbali.

[4] HR. Ahmad dengan beberapa tambahan di awal hadis.

[5] HR.Al-Bukhârî dan Muslim melalui jalur Anas.

[6] HR. Al-Tirmidzî melalui jalur Ibn ‘Abbâs. Menurutnya, kualitas hadis ini hasan gharîb (baik dan langka).

[7] Hadis ini tidak ditemukan sumbernya.

[8] Hadis ini diriwayatkan oleh al-Nasâ’î melalui jalur Anas, tanpa kata “tiga”.

[9] Hadis ini diriwayatkan oleh Abû Manshûr al-Daylamî dalam Musnad al-Firdaws melalui jalur al-Hârits al-A‘war, dari ‘Alî (urutan redaksi bisa bertukar di depan atau di akhir). Untuk diketahui, al-Hârits itu rawi dha‘îf (lemah).

[10] Hadis ini diriwayatkan oleh al-Thabrânî dalam Al-Mu‘jam al-Awsath melalui jalur Anas secara marfû’ dari firman Allah (dalam hadis qudsî), “Aku menciptakan sejumlah tiga ratus sepuluh macam akhlak. Siapa saja yang memiliki satu saja di antara akhlak itu disertai kesaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah, maka ia pasti masuk surga.” Hadis yang melalui jalur Ibn ‘Abbâs redaksinya sebagai berikut: “Islam terdiri dari tiga ratus tiga belas syariat.” Selain dalam Al-Mu‘jam al-Awsath, juga dalam Al-Mu‘jam al-Kabîr, melalui jalur al-Mughîrah ibn ‘Abd al-Rahmân ibn ‘Ubayd, dari ayahnya, dan dari kakeknya terdapat redaksi serupa dengan kata “iman”. Versi al-Bazzâr melalui jalur ‘Utsmân ibn ‘Affân redaksinya sebagai berikut: “Sesungguhnya Allah memiliki seratus tujuh belas syariat ….” Dalam semua riwayat yang satu sebutkan ini tidak satu pun yang memuat pertanyaan Abû Bakr dan jawaban Rasulullah, tetapi kualitas semua hadis ini dha‘îf.

[11] Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad melalui jalur Abû Umâmah, dengan sanad dha‘îf.

[12] Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bukhârî dan Muslim.

[13] Hadis ini diriwayatkan oleh al-Qâdhî ‘Iyâdh melalui jalur ‘Alî ibn Abî Thâlib. Sayang, tidak ditemukan sanadnya.

PSIKOLOGI EKSISTENSIAL

STRUKTUR, DASAR, DAN PERKEMBANGAN EKSISTENSI

oleh: Cholil Eren Masyah

PENDAHULUAN

Berdasarkan kamus psikologi Chaplin, Psikologi eksistensial adalah aliran psikologi dimana pokok persoalan psikologi adalah isi-isi kesadaran, yang harus diselidiki lewat metode introspeksi(mawas diri). Istilah eksistensi berasal dari akar kata ex-sistere, yang secara literal berarti bergerak atau tumbuh ke luar. Dengan istilah in hendak dikatakan oleh para eksistensialis bahwa eksistensi manusia seharusnya dipahami bukan sebagai kumpulan substansi-substansi, mekanisme-mekanisme, atau pola-pola statis, melainkan sebagai “gerak” atau “menjadi”, sebagai sesuatu yang “mengada”.

Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang bersaha memahami kondisi manusia sebgaimana memanifestasikan dirinya di dalam situasi-situasi kongkret. Kondisi manusia yang dimaksud bukanlah hanya berupa ciri-ciri fisiknya (misalnya tubuh dan tempat tinggalnya), tetapi juga seluruh momen yang hadir pada saat itu (misalnya perasaan senangnya, kecemasannya, kegelapannya, dan lainnya). Manusia eksistensial lebih sekedar manusia alam (suatu organisme/alam, objek) seperti pandangan behaviorisme, akan tetapi manusia sebagai “subjek” serta manusia dipandang sebagai satu kesatuan yang menyeluruh, yakni sebagai kesatuan individu dan dunianya. Manusia (individu) tidak mempunyai eksistensi yang dipisahkan dari dunianya dan dunia tidak mungkin ada tanpa ada individu yang memaknakannya. Individu dan dunia saling menciptakan atau mengkonstitusikan (co-constitute). Dikatakan saling menciptakan (co-constitutionality), karena musia dengan dunianya memang tidak bisa dipisahkan satu dari yang lainnya. Tidak ada dunia tanpa ada individu, dan tidak ada individu tanpa ada dunia. Individu selalu kontekstual, oleh karena sebab itu tidak mungkin bisa memahami manusia tanpa memahami dunia tempat eksistensi manusia, melalui dunianyalah maka makna eksistensi tampak bagi dirinya dan orang lain. Sebaliknya individu memberi makna pada dunianya, tanpa diberi makna oleh individu maka dunia tidak ada sebagai dunia. (Zainal A., 2002)

B I O G R A F I

Ludwig Binswager lahir pada tanggal 13 april 1881, di Kreuzlingen, Swiss di tengah keluarga yang memiliki tradisi kedokteran dan psikiatrik kuat. Kakeknya, yang namanya kecilnya juga Ludwig adalah pendiri Belleuve Sanatorium di Kruezlingen pada tahun 1857. ayahnya Robert adalah direktur Sanatorium tersebut. Pada tahun 1911, Binswanger diangkat menjadi direktur medis Belleuve sanatorium.

Ludwig meraih gelar sarjana kedokteran dari University of Zurich tahun1907. Dia belajar dibawah bimbingan Carl Jung dan menjadi asistennya dalam Freudian society. Seperti halnya Jung, dia juga lebih terpengaruh Eugen Bleuleur, seorang psikiatri Swiss terkemuka. Dia adalah salah seorang pengikut pertama Freud di Swiss. Pada awal 1920-an, Binswanger menjadi salah pelopor pertama dalam menerapkan fenomenologi dalam psikiatri. Sepuluh tahun kemudian dia menjadi seorang analisis eksistensial. Binswanger mendefinisikan analisis eksistensial sebagai analisis fenomenologis tentang eksistensi manusia yang actual. Tujuannya adalah rekonstruksi dunia pengalaman batin.

Binswanger adalah terapis pertama yang menekankan sifat dasar eksistensial dari tipe krisis yang dialami pasien dalam pengalaman terapi. Binswanger pada dasarnya berjuang untuk menemukan arti dalam penyakit gila dengan mnerjemahkan pengalaman para pasien kedalam teori psikoanalisis. Setelah membaca pendekatan filsafat Heidegger “Being in time” (1962), Binswanger menjadi lebih eksistensial dan fenomenologis dalam pendekatannya kepada para pasien. Pada tahun 1956, Binswanger berhenti menjadi direktur Sanatorium setelah menduduki posisi tersebut selama 45 tahun. Dia terus melakukan studi dan menulis sampai meninggal pada tahun 1966.

Medard Boss lahir di St. Gallen, Swiss pada tanggal 4 oktober 1903. kemudian menghabiskan masa mudanya di Zurich pusat aktivitas psikologi saat itu. Dia menerima gelar kedokteran university of Zurich pada tahun 1928. kemudian melanjutkan studi ke Paris dan Wina serta membiarkan dirinya dianalisis oleh S.Freud. Mulai tahun 1928, dia bergabung dengan Carl Jung yang menunjukkan pada Boss kemungkinan lepasnya psikoloanalisis dari interpretasi Freudian.

Dalam masa-masa itu, Boss membaca karya-karya Ludwig Binswanger dan Martin Heidegger. Pertemuannya dengan Heidegger pada tahun 1964 yang kemudian berlanjut dengan persahabatannyalah yang membawanya kepada psikologi eksistensial. Pengaruh dalam eksistensial sangat besar sehingga sering disejajarkan dengan Binswanger.

Teori Eksistensial

Sebagaimana tercermin dalam tulisan Binswanger dan Boss, psikologi eksistensial bertentangan dengan pemakaian konsep kausalitas yang berasal dari ilmu-ilmu pengetahuan alam dalam psikologi. Tidak ada hubungan sebab akibat dalam eksistensial manusia, hanya ada rangkaian urutan tingkah laku tetapi tidak bisa menurunkan kausalitas dari rangkaian tersebut. Sesuatu yang terjadi pada seorang anak-anak bukan penyebab dari tingkah lakunya kemudian sebagai seorang dewasa. Peristiwa yang terjadi mungkin memiliki makna eksistensi yang sama akan tetapi tidak berarti peristiwa A menyebabkan peristiwa B. Psikologi eksistensial mengganti konsep kausalitas dengan konsep motivasi.

Untuk menjelaskan perbedaan antara sebab dan motif, Boss mencontohkan dengan jendela yang tertutup oleh angin dan manusia. Angin menyebabkan jendela tertutup, tetapi manusia termotif untuk menutup jendela karena ia tahu bahwa jika jendela terbuka maka air hujan akan masuk. Karena prinsip kausalitas kurang relevan dengan tingkah laku manusia dan sebaliknya motivasi dan pemahaman merupakan prinsip-prinsip operatif dalam analisis eksistensial tingkah laku. (Hall, Calvin S. & Lindzey, Gardner, 1993)

Struktur Eksistensi

1. Ada-di-Dunia (Dasein)

Merupakan dasar fundamental dalam psikologi eksistensial. Seluruh struktur eksistensi manusia didasarkan pada konsep ini. Ada-di-dunia (Dasein) adalah keseluruhan eksistensi manusia, bukan merupakan milik atau sifat seseorang. Sifat dasar dari Dasein adalah keterbukaannya dalam menerima dan memberikan respon terhadap apa yang ada dalam kehadirannya. Manusia tidak memiliki eksistensi terlepas dari dunia dan dunia tidak memiliki eksistensi terlepas dari manusia. Dunia dimana manusia memiliki eksistensi meliputi 3 wilayah, yaitu:

    1. Umweit (dunia biologis, “lingkungan”)

Dunia objek disekitar kita, dunia natural. Yang termasuk dalam umwelt diantaranya kebutuhan-kebutuhan biologis, dorongan-dorongan, naluri-naluri, yakni dunia yang akan terus ada, tempat dimana kita harus menyesuaikan diri. Akan tetapi umwelt tidak diartikan sebagai “dorongan-dorongan” semata melainkan dihubungkan dengan kesadaran-diri manusia.

    1. Mitweit (“dunia bersama”)

Dunia perhubungan antar manusia dengan manusia yang lain. Didalamnya terdapat perhubungan antar berupa interaksi manusiawi yang mengandung makna. Dalam perhubungan tersebut terdapat perasaan-perasaan seperti cinta dan benci yang tidak pernah bisa dipahami hanya sebagai sesuatu yang bersifat biologis semata.

    1. Eigenwelt (“dunia milik sendiri”)

Adalah kesadaran diri, perhubungan diri dan secara khas hadir dalam diri manusia.

2. Ada-melampaui-Dunia (kemungkinan-kemungkinan dalam manusia)

Analisis eksistensial mendekati eksistensi manusia dengan tidak memakai pandangan lain selain bahwa manusia ada di dunia, memiliki dunia, ingin melampaui dunia. Akan tetapi, Binswanger tidak mengartikan ada-melampaui-dunia sebagai dunia lain melainkan mau mengungkapkan begitu banyak kemungkinan yang dimiliki manusia untuk mengatasi dunia yang disinggahinya dan memasuki dunia baru. Istilah melampaui/mengatasi dunianya dikenal juga dengan transendensi yang merupakan karakteristik khas dari eksistensi manusia serta merupakan landasan bagi kebebasan manusia.

Karena hanya dengan mengaktualisasikan kemungkinan-kemungkinan tersebut ia dapat menjalani kehidupan yang otentik, apabila ia menyangkal atau membatasi kemungkinan-kemungkianan yang penuh dari eksistensinya atau membiarkan dirinya dikuasai oleh orang-oarang lain atau oleh lingkungannya, maka manusia itu hidup dalam suatu eksistensi yang tidak otentik. Manusia bebas memilih salah satu dari keduanya.

3. Dasar Eksistensi

Manusia dapat hidup dengan bebas, akan tetapi bukan berarti tanpa adanya batas-batas. Salah satu batas adalah dasar eksistensi kemana orang-orang “dilemparkan”. Kondisi “keterlemparan” ini, yakni cara manusia menemukan dirinya dalam dunia yang menjadi dasarnya, merupakan nasibnya. Manusia harus hidup sampai nasibnya berakhir untuk mencapai kehidupan yang otentik. Keterlemparan juga diartikan sebagai keadaan diperdaya oleh dunia, dengan akibat orang-orang menjadi terasing dari dirinya sendiri.

4. Rancangan Dunia

Rancangan dunia adalah istilah Binswanger untuk menyebut pola yang meliputi cara ada di dunia seorang individu. Rancangan dunia seseorang menentukan cara bagaimana ia akan bereaksi terhadap situasi-situasi khusus serta ciri sifat dan simpton macam mana yang akan dikembangkannya.batas-batas dari rancangan tersebut mungkin sempit, dan mengerut atau mungkin lebar dan meluas.

Binswanger mengamati bahwa jika rancangan dunia dikuasai oleh sejumlah kecil kategori, maka ancamannya akan lebih cepat dialami dibandingkan bila rancangan dunia terdiri dari bermacam-macam kategori. Pada umumnya, orang memiliki lebih dari satu rancangan dunia.

5. Cara-cara Ada Dunia

Ada banyak cara yang berbeda untuk ada di dunia, setiap cara merupakan Dasein memahami, menginterpretasikan, dan mengungkap dirinya. Diantaranya, cara jamak (dengan menjalin hubungan-hubungan formal, kompetisi, dan perjuangan), cara tunggal (untuk dirinya sendiri), dan cara anonimitas (tenggelam di tengah orang banyak). Biasanya orang tidak hanya memiliki satu cara eksistensi, tetapi banyak.

6. Eksistensial

Boss tidak berbicara tentang cara-cara ada di dunia dengan arti sama seperti yang dikemukakan oleh Binswanger. Boss lebih membicarakan mengenai sifat-sifat yang melekat pada eksistensi manusia, selain itu hal lain yang dibicarakan oleh Boss adalah spasialitas eksistensi (keterbukaan dan kejelasan merupakan spasialitas (tdk diartikan dalam jarak) yang sejati dalam dunia manusia), temporalitas eksistensi (waktu (bkn jam) yang digunakan/dihabiskan manusia untuk….), badan (ruang lingkup badaniah dalam pemenuhan eksistensi manusia), eksistensi dalam manusia milik bersama (manusia selalu berkoeksistensi atau tinggal bersama orang lain dalam dunia yang sama), dan suasana hati atau penyesuaian (apa yang diamati dan direspon seseorang tergantung pada suasana hati saat itu).

Dinamika Eksistensi

Psikologi eksistensial tidak mengkonsepsikan tingkah laku sebagai akibat dari perangsang dari luar dan kondisi-kondisi badaniah dalam manusia. Seorang individu bukanlah mangsa lingkungan dan juga bukanlah makhluk yang terdiri dari insting-insting, kebutuhan-kebutuhan, dan dorongan-dorongan.

Akan tetapi ia memiliki kebebasan untuk memilih dan hanya ia sendiri yang bertanggung jawab terhadap eksistensinya. Apa saja yang dilakukannya adalah pilihannya sendiri, orang sendirilah yang menentukan akan menjadi apa dia dan apa yang akan dilakukannya.

Perkembangan Eksistensi

Konsep eksistensial perkembangan yang paling penting adalah konsep tentang menjadi. Eksistensi tidak pernah statis, tetapi selalu berada dalam proses menjadi sesuatu yang baru, mengatasi diri sendiri. Tujuannya adalah untuk menjadi manusia sepenuhnya, yakni memenuhi semua kemungkinan Dasein.

Menjadi orang dan menjadi dunia selalu berhubungan, keduanya merupakan mitra menjadi (co-becoming, Strauss). Orang menyingkap kemungkinan-kemungkinan dari eksistensinya melalui dunia, dan sebaliknya dunia tersingkap oleh orang yang ada di dalamnya. Manakala bila yang satu tumbuh dan berkembang maka yang juga harus tumbuh dan berkembang begitu pula sebaliknya apabila yang satu terhambat maka yang juga terhambat. Bahwa kehidupan berakhir dengan kematian sudah merupakan fakta yang diketahui oleh setiap orang.

Terapi

Inti terapi eksistensial adalah hubungan antara terapi dengan kliennya. Hubungan ini disebut pertemuan. Pertemuan adalah kehadiran asal satu Dasein kehadapan Dasein yang lain, yakni sebuah “ketersingkapan” satu Dasein terhadap yang lainnya. Berbeda dengan terapi-terapi formal, seperti terapi gaya Freud, atau terapi-terapi yang “teknis”, seperti terapi gaya behavioris, para terapis eksistensial sepertinya ingin terlibat intim dengan Anda. Saling beri dan saling terima adalah bagian paling alami dari pertemuan, bukan untuk saling menghakimi dan memojokkan. (Boeree, C.George, 2004)

Para analasis eksistensial menyadari kompleksitas manusia yang mereka hadapi di ruang-ruang praktek mereka. Mereka menyadari bahwa manusia bukan hanya merupakan makhluk biologis atau fisik, melainkan juga sebagai makhluk yang unik dan mempunyai kesadaran. Dengan perkataan lain, manusia tidak lain adalah tubuh (organisme) yang berkesadaran. Oleh sebab itu, mereka beranggapan bahwa pendekatan analisis eksistensial tentunya diperlukan, karena menwarkan kejernihan analisis atas pasien-pasien mereka. Gejala manusia dan pengalaman-pengalamannya tentu saja tidak bisa dikuantitafikasikan dan digeneralisasi begitu saja. Perlu pengungkapan yang lebih spesifik. Analisis eksistensial dianggap mampu melakukan tugas itu.

Dalam analisis eksistensial yang dilakukan Binswanger sebagai metode baru yang berbeda dari metode-metode yang ada sebelumnya, terlihat dalam kasus yang ditanganinya yaitu kasus “Ellen West” yang merupakan salah seorang pasiennnya. Binswanger mengadakan analisis fenomenologis mengenai tingkah lakunya dan menggunakan penemuan-penemuan tersebut untuk merumuskan eksistensi atau cara-cara ada-di-dunia pasien tersebut. Ia menyelidiki arsip-arsip di Sanotarium dan memilih kasus seorang gadis muda, yang pernah berusaha untuk melakukan bunuh diri. Kasus ini menarik karena selain buku harian, catatan-catatan pribadi dan puisi-puisinya yang penuh pesona, juga karena sebelum dirawat di sanotarium, ia telah dirawat lebih dari dua periode oleh para psikoanalis dan selama di sanitarium ia telah menerima perawatan dari Bleuler dan Kraepelin. Dalam analisis eksistensial (yang tekanannya lebih pada terapi), Binswanger pertama-tama menganalisis asumsi-asumsi yang mendasari hakekat manusia kemudian ia berhasil sampai pada pemahaman mengenai struktur tempat diletakkannya segenap system terapeutik. (Zainal A., 2002)

Medard Boss menggunakan analisis mimpi dalam terapinya terhadap seorang pasien yang menderita obsesional-complusive. Pasien ini menderita kompulsi-kompulsi untuk mencuci tangan dan membersihkan, ia sering bermimpi tentang menara-menara gereja. Pasien ini sebelumnya telah menjalani analisa Freudian dan menginterpretasikan isi mimpi tersebut sebagai simbol-simbol phalik serta menjalani analisa Jungian yang menghubungkannya dengan simbol-simbol arketif[1] religius. Dalam dengan Boss sang pasien menceritakan tentang mimpi-mimpinya yang datang berulang-ulang seperti ia mendekati sebuah pintu kamar mandi yang selalu terkunci. Boss menunjukkan dalam pembahasannya tenang kasus itu bahwa pasien merasa bersalah, karena telah mengunci beberapa potensi yang sangat penting dalam dirinya. Ia mengunci baik kemungkinan-kemungkinan pengalaman badaniahnya maupun spiritualnya atau aspek “dorongannya” dan aspek “tuhannya”, semua itu dilakukannya untk melarikan diri dari semua masalah yang dihadapinya. Menurutnya pasien merasa bersalah bukan semata-mata bahwa ia mempunyai rasa bersalah. Pasien tidak menerima dan tidak memasukkan kedua aspek tersebut ke dalam eksistesinya, maka ia merasa bersalah dan berhutang pada dirinya. Pemahaman mengenai rasa bersalah tidak ada hubungannya dengan sikap menilai (“judgmental attitude”), yang perlu dilakukan hanyalah memperhatikan kehidupan dan pengalaman pasien secara sungguh-sungguh dan penuh rasa hormat. (Zainal A., 2002)

Catatan kritik

Salah satu kritik terhadap psikologi eksistensial adalah ketika psikologi telah diperjuangkan untuk dapat membebaskan diri dari dominasi filsafat, justru psikologi eksistensial secara terang-terangan menyatakan kemuakkannya terhadap positivisme dan determinisme. Para psikolog di Amerika yang telah memperjuangkan kemerdekaan psikologi dari filsafat jelas menentang keras segala bentuk hubungan baru dengan filsafat. Banyak psikolog merasa bahwa psikologi eksistensial mencerminkan suatu pemutusan yang mengerikan dengan jajaran ilmu pengetahuan, karena itu membahayakan kedudukan ilmu psikologi yang telah diperjuangkan dengan begitu susah payah.

Salah satu konsep eksistensial yang paling ditentang oleh kalangan psikologi “ilmiah” ialah kebebasan individu untuk menjadi menurut apa ynag diinginkannya. Jika benar, maka konsep in sudah pasti meruntuhkan validitas psikologi yang berpangkal pada konsepsi tengtang tingkah laku yang sangat deterministic. Karena jika manusia benar-benar bebas menentukan eksistensinya, maka seluruh prediksi dan control akan menjadi mustahil dan nilai eksperimen menjadi sangat terbatas. (Hall, Calvin S. & Lindzey, Gardner, 1993)

Banyak psikolog dan sarjana psikologi baik dalam maupun luar negeri mempertanyakan keberadaan analisis eksistensial. Yang mereka pertanyakan menyangkut dasar-dasar ilmiah dari analisis eksistensial. Psikologi sebagai ilmu telah lama diupayakan untuk melepaskan diri dan berada jauh dari filsafat. Psikologi harus merupakan suatu science (ilmu pasti alami) yang independent. Padahal, analisis eksistensial mengeritik ilmu (science) dan mengambil manfaat dari filsafat (fenomenologi dan eksistensialisme). Atas dasar itu, banyak sarjana psikologi yang bertanya, apakah analisis eksistensial relevan dengan perkembangan ilmu psikologi modern?

Jawaban atas pertanyaan itu tergantung pada pemahaman kita tentang manusia. Siapakah atau apakah manusia itu? Apakah manusia pada dasarnya hanya merupakan bagian dari organisme dan atau dari materi (aspek fisik kehidupan)? Jika kita memahami manusia sebgaimana para behavioris atau psikoanalis memahaminya, yakni bahwa manusia pada dasarnya merupakan bagian dari organisme atau materi, maka analisis eksistensial tampaknya tidak diperlukan. Cukup dengan pendekatan kuantitatif dan medis, dengan eksperimen dan pembedahan otak musia, maka kita sudah cukup mampu memahami dan menyembuhkan individu (manusia) yang bermasalah (patologis). Namun, dalam praktek atau kenyataan, kita menyaksikan bahwa manusia ternyata jauh lebih kompleks dari sekedar organisme dan materi. (Zainal A., 2002)

Pandangan Islam

“Sungguh kami telah menciptakan manusia dari setetes air mani yang bercampur yang kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sungguh kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.” (Q.S. Al-Insan : 2-3)

  • Berbicara mengenai eksistensi manusia yang dalam hal ini psikologi eksistensial terdapat beberapa hal yang memiliki kesamaan dengan yang diajarkan dalam Islam. Seperti yang terdapat pada ayat diatas, dapat kita ambil makna bahwa sesungguhnya manusia diberikan kebebasan untuk memilih kebaikan ataupun keburukkan untuk hidup yang jelas Allah SWT telah memberikan petunjuk yang benar dan lurus, apabila kemudian mereka (manusia) mau bersyukur ataupun kufur tergantung kepada manusia itu sendiri. Karena Allah SWT telah memberikan potensi-potensi kepada manusia untuk dikembangkan dan digunakan sebaik-baiknya. Dalam memandang kebebasan menusia untuk berbuat sesuatu untuk hidupnya psikologi eksistensi juga mengungkapkan hal tersebut, manusia akan hidup dalam eksistensinya walaupun dengan pilihan hidup yang otentik dan tidak otentik manusia itu sendiri juga yang memilihnya. Namun ada hal yang tidak dapat ditemukan oleh pemakalah dalam eksistensi manusia itu sendiri. Yaitu dari mana manusia itu berasal sehingga bisa menjadi ada-di-dunia atau disebut Dasein. Manusia tidak memiliki eksistensi terlepas dari dunia dan dunia tidak memiliki eksistensi terlepas dari manusia. Tidak ada penjelasan bagaimana manusia dan dunia bisa ada. Kami memang menemukan aspek “tuhan” serta ‘spiritual’ pada analisa mimpi yang dilakukan oleh Boss akan tetapi penjelasan aspek tersebut tidak ditemukan. Seolah-olah manusia dan dunia muncul dengan begitu saja kemudian manusia itu menyadari keberadaannya maka dia ‘ada’. Sedangkan dalam ayat diatas jelas manusia diciptakan dari setetes mani yang bercampur oleh Allah SWT. Begitu pula dalam surat Ar-Rahman ayat 4, “ Dia menciptakan manusia” serta pada ayat 7&10, “Dan langit telah ditingggikan-Nya dan Dia ciptakan keseimbangan.(7) Dan bumi telah dibentangkan-Nya untuk makhluk-Nya.(10)”. Bahwa manusia dan dunia adalah hasil ciptaan Allah SWT. dan tidak begitu saja ada. Memang dalam teori in terdapat konsep transendensi, akan tetapi pengertian transendensi disini menekankan pada cara manusia untuk melampaui/mengatasi permasalahan dunianya.

PENUTUP

 

 

Psikologi eksistensial adalah ilmu pengetahuan empiris tentang eksistensi manusia yang menggunakan metode analisis fenomenologis. psikologi eksistensial bertentangan dengan pemakaian konsep kausalitas yang berasal dari ilmu-ilmu pengetahuan alam dalam psikologi. Psikologi eksistensial mengganti konsep kausalitas dengan konsep motivasi.

 

 

Struktur Eksistensi

 

  • Ada-di-Dunia (Dasein)
  • Ada-melampaui-Dunia (kemungkinan-kemungkinan dalam manusia)
  • Dasar Eksistensi
  • Rancangan Dunia
  • Cara-cara Ada Dunia
  • Eksistensial (Boss)

 

Psikologi eksistensi tidak mengkonsepsikan tingkah laku sebagai akibat dari perangsang dari luar dan kondisi-kondisi badaniah dalam manusia. Konsep eksistensial perkembangan yang paling penting adalah konsep tentang menjadi. Eksistensi tidak pernah statis, tetapi selalu berada dalam proses menjadi sesuatu yang baru, mengatasi diri sendiri. Tujuannya adalah untuk menjadi manusia sepenuhnya, yakni memenuhi semua kemungkinan Dasein.

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Zanial, 2002. Analisis Eksistensial untuk psikologi dan psikiatri, Bandung: PT Refika Aditama.

Al-Qur’an dan terjemah, 2006. Bandung: Diponegoro

Chaplin, J.P., 1999. Kamus Lengkap Psikologi, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

Hall, Calvin S. & Lindzey, Gardner, 1993. Teori-teori Holistik (Organismik-Fenomenologis), Yogyakarta : Kanisius.

Boeree, C.George, 2004. Personality Theories, Yogyakarta : PRISMASHOPIE.


[1] Isi kejiwaan sejak jaman purba dari ketidaksadaran rasial, terdiri atas ide-ide dan predisposisi (kecenderungan) yang diwarisi. Kamus lengkap psikologi, Chaplin

  • KALENDER 2007

    Desember 2016
    S S R K J S M
    « Sep    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031